Lonjakan Harga Minyak Dan US Treasury Yields, Tekan Harga Emas

(Inspiratorrakyat)-Setelah sempat mengalami penurunan dari level tertingginya sejak Mei lalu, Emas mampu bertahan di dekat level $4500 per troy ounce, pasca penurunan imbal hasil Treasury AS jangka panjang seiring perluasan program pembelian kembali (Buyback) oleh Departemen Keuangan AS, yang hingga saat ini masih menopang pergerakan Emas, di tengah kondisi para pelaku pasar yang mengkhawatirkan pandangan hawkish Federal Reserve untuk kedepannya.

Ekspektasi kondisi keuangan yang lebih longgar serta melemahnya nilai tukar US Dollar, menjadi faktor yang berpeluang memberikan dukungan terhadap XAUUSD, meskipun para investor masih tetap waspada terhadap terbukanya peluang kenaikan suku bunga The Fed jika inflasi masih berada di level yang tinggi.

Pergerakan Emas saat ini, setelah adanya pengumuman dari Departemen Keuangan AS yang mengejutkan pasar, dimana para pejabat keuangan AS menyatakan bahwa mereka akan melipatgandakan skala operasi dukungan likuiditas tertentu yang terkait dengan utang pemerintah jangka panjang, yang mana peningkatan permintaan ini membantu untuk menimbulkan tekanan bagi imbal hasil obligasi jangka panjang, yang pada akhirnya memberikan dukungan bagi Emas untuk melonjak lebih dari 4% di sesi perdahgangan Rabu kemarin.

Korelasi antara program buyback obligasi dengan harga Emas yang tidak memiliki imbal hasil, sangat penting artinya setelah imbal hasil obligasi mengalami kenaikan, maka obligasi tersebut menawarkan aliran pendapatan yang lebih menarik bagi investor dibandingkan dengan memegang Emas, dan sebaliknya di saat imbal hasil Tresury AS turun maka biaya peluang tersebut tentunya akan berkurang sehingga Emas menjadi relatif lebih menarik.

Program Buyback Obligasi Pemerintah AS Mendorong Penurunan Imbal Hasil

Saat ini nilai tukar mata uang US Dollar masih tetap bertahan, yang semakin memberikan dukungan bagi Logam Mulia, dalam denominasi Dollar, karena membuat harga Emas menjadi lebih murah bagi para buyer dari luar negeri.

Langkah Departemen Keuangan AS ini diambil di tengah kekhawatiran yang semakin besar terhadap kondisi keuangan pemerintah AS, dimana total hutang pemerintah AS kini telah melampaui $40 triliun untuk pertama kalinya, sehingga memicu peringatan terhadap posisi fiskal AS yang berpeluang semakin sulit untuk dikelola, serta mengingat belanja program social dan biaya bunga hutang telah melampaui pendapatan, termasuk setelah melalui pemotongan pajak.

Analis ANZ menyatakan bahwa program pembelian kembali obligasi yang lebih besar dari Departemen Keuangan merupakan sinyal bahwa para pembuat kebijakan ingin menurunkan biaya pinjaman, dan mereka juga menyebutkan bahwa prospek kondisi keuangan yang lebih longgar akibat langkah tersebut biasanya menciptakan situasi yang menguntungkan bagi Emas.

Anz juga mencatat bahwa harga Emas telah mulai pulih setelah sempat menyentuh level $4000 per troy ounce di bulan lalu, akibat dukungan yang didapat dari kembalinya minat investor serta aksi pembelian oleh sejumlah bank sentral di dunia.

Risiko Inflasi The Fed Akan Tetap Menjadi Sorotan

Dalam lingkungan imbal hasil Treasury AS yang lebih rendah memang telah memberikan dukungan bagi Emas, namun demikian Risalah Rapat dari FOMC, yang dirilis pada dinihari tadi, menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi kendala yang signifikan bagi para pembuat kebijakan The Fed.

FOMC Meeting Minutes bulan Juli telah menunjukkan bahwa sejumlah pejabat The Fed siap untuk menaikkan suku bunga, sementara itu banyak yang menyatakan bahwa kenaikan suku bunga akan diperlukan apabila inflasi gagal berada di jalur penurunannya menuju target bank sentral di 2%.

Akan tetapi CME FedWatch menunjukkan bahwa para pelaku pasar memperhitungkan adanya probabilitas sebesar 67.3% bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah di rapat kebijakan bulan September mendatang, dari sebelumnya yang menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 32.7%.

Adapun keseimbangan kebijakan tersebut akan tetap menjadi faktor penting bagi komoditas Emas, dimana suku bunga yang lebih tinggi pada umumnya memberikan tekanan terhadap Logam Mulia, karena meningkatkan imbal hasil yang dapat diperoleh investor dari aset-aset yang menghasilkan bunga, sedangkan lingkungan kebijakan yang lebih akomodatif cenderung mengurangi kerugian tersebut.

Sementara itu ketidakpastian geopolitik dan ekonomi turut menjadi penopang bagi permintaan jangka panjang, dimana sebuah survei yang dirilis oleh World Gold Council menunjukkan bahwa 45% bank sentral di dunia berencana untuk menambah cadangan Emas mereka, dengan alasan utama berupa laju inflasi yang semakin meningkat serta masih adanya ketidakpastian geopolitik