Catatan Kaki :

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

📌Perlu ditekankan bahwa fokus utama artikel ini adalah untuk memperingati dan mengapresiasi peran krusial Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kapolri pertama Republik Indonesia dan arsitek utama pembangunan institusi kepolisian nasional yang independen dan profesional. Pembahasan mengenai afiliasi pribadi atau organisasi lain, seperti Freemasonry, bukan merupakan inti dari narasi sejarah ini. Sejarah kontribusi beliau dalam meletakkan fondasi Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah warisan terpenting yang patut kita kenang dan teladani.

📌Artikel ini bertujuan untuk mengulas kiprah Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dalam membangun institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai Kapolri pertama. Segala referensi atau penyebutan mengenai keterkaitannya dengan Freemasonry tidak dimaksudkan untuk membahas keanggotaannya dalam organisasi tersebut, melainkan disajikan secara kontekstual sebagai bagian dari informasi historis yang relevan pada masanya. Fokus utama tetap pada kontribusi beliau terhadap pembentukan dan penguatan sistem kepolisian nasional pasca-kemerdekaan.

Oleh : MUH IKHSAN AM,

Inspirator-Rakyat.com-Pada tanggal 7 Juni 1908, dunia menyaksikan kelahiran seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia: Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Lahir di Buitenzorg (sekarang Bogor), Jawa Barat, Soekanto tumbuh menjadi sosok yang tidak hanya berperan dalam membangun institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tetapi juga memiliki keterkaitan dengan organisasi internasional yang kontroversial, Freemasonry.

Beliau dikenal sebagai Kapolri pertama Republik Indonesia, sebuah jabatan yang diembannya dari tahun 1945 hingga 1959. Dedikasi dan visinya telah membentuk fondasi Kepolisian Nasional yang kita kenal saat ini.

Pendidikan Dan Awal Karier :

Soekanto memulai pendidikannya di Froben School, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bogor, dan Hoogere Burger School (HBS) di Bandung. Setelah lulus dari HBS, ia sempat kuliah di Recht Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta, namun karena kondisi ekonomi keluarga, ia terpaksa berhenti kuliah. Pada tahun 1930, Soekanto mengikuti pendidikan kepolisian di Sukabumi dan pada tahun 1933, ia telah menjadi Komisaris Polisi Kelas III .

Sang Arsitek Kepolisian Nasional :

Lahir di Bogor, Soekanto Tjokrodiatmodjo menempuh pendidikan hukum di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia. Pengalamannya sebelum kemerdekaan termasuk bekerja di berbagai institusi kepolisian pada masa kolonial Belanda, yang memberinya pemahaman mendalam tentang struktur dan operasional kepolisian.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kepala Kepolisian Negara yang pertama. Ini adalah tugas yang monumental, karena beliau harus membangun sebuah lembaga kepolisian yang independen dan profesional dari nol, di tengah gejolak revolusi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Di bawah kepemimpinannya, kepolisian Indonesia mulai menyusun organisasinya, merumuskan kode etik, dan melatih personel. Beliau menekankan pentingnya kepolisian yang mengayomi rakyat, jauh dari citra represif masa kolonial. Soekanto memegang teguh prinsip bahwa kepolisian harus menjadi pelayan masyarakat dan penegak hukum yang adil.

Peran Dalam Kepolisian Indonesia :

Pada masa awal kemerdekaan, tepatnya pada 29 September 1945, Soekanto diangkat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama. Ia menjabat hingga 14 Desember 1958. Selama masa kepemimpinannya, Soekanto berhasil meletakkan dasar-dasar kepolisian modern di Indonesia, termasuk pembentukan satuan-satuan seperti Polair, Brimob, Polantas, serta pendirian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta.

Keterlibatan Dalam Freemasonry :

Selain kiprahnya di dunia kepolisian, Soekanto juga dikenal sebagai anggota Freemasonry, sebuah organisasi internasional yang sering menjadi sorotan karena sifatnya yang tertutup dan simbolis. Ia bergabung dengan Freemasonry pada tahun 1938 sebagai anggota Lodge La Contante et Fidele di Semarang. Pada tahun 1952, saat masih menjabat sebagai Kapolri, Soekanto diangkat sebagai Suhu Agung (Grandmaster) dari Timur Agung Indonesia, yang merupakan federasi nasional Freemasonry di Indonesia. Ia juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Raden Saleh, yang merupakan kelanjutan dari Carpentier Alting Stichting, sebuah lembaga yang memiliki hubungan dengan Freemasonry.

Mengenai keterkaitan Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dengan Freemasonry, hal tersebut memang menjadi salah satu aspek yang kerap dibahas dalam catatan sejarah pribadinya. Freemasonry adalah sebuah persaudaraan yang berakar pada tradisi abad pertengahan dan menekankan nilai-nilai moral, etika, dan pengembangan diri melalui simbolisme dan ritual. Pada awal abad ke-20, khususnya di Hindia Belanda, banyak tokoh terpelajar, termasuk pejabat pemerintah dan intelektual, yang menjadi anggota loge Freemason.

Keterlibatan seseorang dalam Freemasonry pada masa itu seringkali dilihat sebagai bagian dari gerakan intelektual dan pencerahan yang bersifat kosmopolitan. Bagi sebagian orang, Freemasonry menawarkan ruang untuk berdiskusi tentang filosofi, etika, dan kemajuan sosial, yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Penting untuk dicatat bahwa keanggotaan Soekanto dalam organisasi ini tidak mengurangi atau mendefinisikan kontribusinya yang luar biasa terhadap bangsa dan negara. Fokus utama dalam mengenang beliau adalah peran vitalnya dalam mendirikan dan mengembangkan Kepolisian Republik Indonesia yang berdaulat dan profesional.

Penghargaan Dan Legasi :

Atas jasanya dalam membangun institusi Polri, Soekanto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020. Penganugerahan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusinya dalam perjuangan dan pembangunan negara.

Kesimpulan :

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo adalah sosok yang kompleks dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Lahir pada 7 Juni 1908, ia tidak hanya dikenal sebagai Kapolri pertama yang berhasil membangun fondasi kepolisian nasional, tetapi juga sebagai anggota Freemasonry yang aktif. Peran ganda ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup Soekanto mencerminkan dinamika sejarah Indonesia yang penuh dengan tantangan dan perubahan.

Catatan Kaki :

📌Perlu ditekankan bahwa fokus utama artikel ini adalah untuk memperingati dan mengapresiasi peran krusial Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kapolri pertama Republik Indonesia dan arsitek utama pembangunan institusi kepolisian nasional yang independen dan profesional. Pembahasan mengenai afiliasi pribadi atau organisasi lain, seperti Freemasonry, bukan merupakan inti dari narasi sejarah ini. Sejarah kontribusi beliau dalam meletakkan fondasi Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah warisan terpenting yang patut kita kenang dan teladani.

📌Artikel ini bertujuan untuk mengulas kiprah Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dalam membangun institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai Kapolri pertama. Segala referensi atau penyebutan mengenai keterkaitannya dengan Freemasonry tidak dimaksudkan untuk membahas keanggotaannya dalam organisasi tersebut, melainkan disajikan secara kontekstual sebagai bagian dari informasi historis yang relevan pada masanya. Fokus utama tetap pada kontribusi beliau terhadap pembentukan dan penguatan sistem kepolisian nasional pasca-kemerdekaan.

Editor   : MUH. IKHSAN AM 

( INSPIRATOR-RAKYAT.COM )

( PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )