Rahasia Tersembunyi Tentang Alam Semesta Yang Akan Mengubah Cara Kamu Melihat Hidup Bagian 2

BAB 1. REALITAS ADALAH CERMINAN KESADARANMU PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS MODERN :

📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

Oleh : MUH IKHSAN AM

Inspirator-Rakyat.com-Dalam lintasan sejarah pemikiran manusia, muncul satu pertanyaan mendasar yang tak kunjung usang Apa itu realitas? Apakah dunia di sekitar kita benar-benar sebagaimana adanya, ataukah ia merupakan pantulan dari sesuatu yang lebih dalam yakni kesadaran manusia itu sendiri? Dalam khazanah filsafat modern dan fisika kuantum, muncul gagasan bahwa realitas bersifat subjektif, atau setidaknya terpengaruh oleh kesadaran pengamatnya. Namun jauh sebelum sains modern mengajukan premis ini, Al-Qur’an telah menyentuh akar dari pertanyaan ini melalui ayat-ayat yang menggugah kesadaran kosmis dan spiritual manusia.

Dalam perspektif Islam, realitas bukanlah entitas netral yang berdiri sendiri tanpa makna. Sebaliknya, realitas adalah manifestasi dari Kehendak dan Ilmu Allah, setiap partikel, galaksi, dan ruang hampa pun merupakan bagian dari tatanan Ilahi yang terstruktur dan sarat makna. Maka, kesadaran manusia bukan sekadar saksi terhadap realitas, tetapi juga jendela untuk memahami ayat-ayat Tuhan, baik yang tertulis (Al-Qur’an) maupun yang terbentang (alam semesta).

Sains modern, khususnya dalam bidang fisika kuantum, telah mengonfirmasi sebagian aspek dari gagasan ini. Dalam eksperimen double-slit misalnya, partikel seperti elektron menunjukkan perilaku berbeda ketika diamati mengindikasikan bahwa kesadaran atau tindakan observasi dapat memengaruhi realitas fisik. Teori ini memperkuat asumsi metafisis bahwa realitas bukan entitas statis, melainkan dinamis dan sangat bergantung pada relasi dengan subjek yang menyadarinya.

Namun, Islam tidak memisahkan antara yang lahiriah dan batiniah, antara materi dan makna. Dalam Islam, kesadaran bukan hanya fungsi neurologis, melainkan cahaya yang ditanamkan Allah di dalam hati manusia (nurun ‘ala nur). Dengan cahaya inilah manusia mampu menyaksikan hakikat dari ciptaan. Maka ketika kita menyatakan bahwa realitas adalah cerminan kesadaran, dalam Islam hal ini berarti bahwa realitas sejati hanya bisa dipahami sejauh mana hati manusia tersambung dengan Sumber Realitas itu sendiri, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Artikel ini akan membahas bagaimana pemahaman tentang realitas sebagai cerminan kesadaran dapat dipahami melalui sudut pandang Islam dan sains modern. Kita akan menjelajahi bagaimana Al-Qur’an telah lebih dahulu menyentuh realitas multidimensional, serta bagaimana sains masa kini tanpa disadari sedang menapak tilas kebenaran-kebenaran yang telah disingkap oleh wahyu sejak berabad-abad lalu. Dari struktur mikroskopik hingga jagat raya, dari sinyal-sinyal neuron hingga cahaya bintang, semuanya menunjuk kepada satu fakta spiritual bahwa realitas bukan semata ada, tetapi diadakan dan itu adalah tanda dari-Nya.

“Segala hal yang terjadi di hidupmu berasal dari dalam dirimu. Dunia luar hanyalah layar pantul dari frekuensi kesadaranmu.”

Pernyataan ini merujuk pada konsep bahwa realitas eksternal sangat dipengaruhi oleh kondisi batin dan kesadaran kita. Dalam Islam, ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ ١١

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dari depan dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

(QS. Ar-Ra’d Ayat : 11)

Tafsir Lengkap :

Ayat ini merupakan salah satu ayat fundamental dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sunnatullah (ketetapan Allah) dalam perubahan kondisi manusia dan kaum. Mari kita bedah tafsirnya per bagian :

1. “لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ” (Bagi Manusia Ada Malaikat-Malaikat Yang Selalu Mengikutinya Bergiliran, Dari Depan Dan Belakangnya, Mereka Menjaganya Atas Perintah Allah.) :

Bagian awal ayat ini berbicara tentang penjagaan Allah terhadap hamba-Nya melalui malaikat. Kata “مُعَقِّبَاتٌ” (mu’aqqibat) merujuk pada malaikat-malaikat yang secara bergantian (mengikuti secara berurutan) menjaga manusia. Mereka berada di depan dan di belakang, mengawasi dan melindungi manusia dari berbagai bahaya atau musibah yang belum takdirnya terjadi. Penjagaan ini bukan berarti manusia tidak akan pernah ditimpa musibah, melainkan bahwa musibah yang menimpa adalah bagian dari ketetapan Allah, dan malaikat-malaikat ini menjaga dari bahaya yang bukan bagian dari takdirnya. Penjagaan ini sepenuhnya atas perintah dan izin Allah, bukan atas kekuatan malaikat itu sendiri. Ini menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. sangat peduli dan menjaga hamba-hamba-Nya.

2. “إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ” (Sesungguhnya Allah Tidak Mengubah Keadaan Suatu Kaum Sehingga Mereka Mengubah Keadaan Yang Ada Pada Diri Mereka Sendiri.) :

Ini adalah inti dari ayat ini dan merupakan prinsip yang sangat penting. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan nasib atau kondisi suatu kaum (atau individu) sangat bergantung pada usaha dan perubahan yang mereka lakukan pada diri mereka sendiri.

• “Allah Tidak Mengubah” : Ini berarti Allah tidak akan merubah nasib baik menjadi buruk, atau nasib buruk menjadi baik, secara sepihak tanpa ada sebab dari manusia itu sendiri.

• “Sehingga Mereka Mengubah Keadaan Yang Ada Pada Diri Mereka Sendiri” : Frasa ini menekankan tanggung jawab manusia. Perubahan yang dimaksud bisa dalam berbagai aspek :

• Perubahan Aqidah (Keyakinan) : Dari kekufuran menjadi keimanan, atau dari kemusyrikan menjadi tauhid.

• Perubahan Akhlak (Perilaku) : Dari keburukan menjadi kebaikan, dari kemaksiatan menjadi ketaatan, dari malas menjadi rajin, dari apatis menjadi peduli.

• Perubahan Pola Pikir Dan Niat : Dari negatif menjadi positif, dari malas menjadi proaktif.

• Perubahan Sosial : Ketika suatu masyarakat mengubah nilai-nilai, kebiasaan, dan sistem mereka dari yang merusak menjadi yang membangun.

Ayat ini menanamkan optimisme dan motivasi bahwa manusia memiliki kendali atas nasibnya, bukan dalam arti mutlak menentukan takdir, tetapi dalam arti berusaha dan berikhtiar untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ini juga menjadi peringatan bahwa jika suatu kaum berada dalam kemunduran atau keburukan, penyebab utamanya adalah dari diri mereka sendiri, bukan dari Allah. Allah Maha Adil dan tidak akan menzalimi hamba-Nya.

3. “وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ” (Dan Apabila Allah Menghendaki Keburukan Terhadap Suatu Kaum, Maka Tak Ada Yang Dapat Menolaknya;) :

Bagian ini melengkapi bagian sebelumnya. Jika Allah telah menetapkan atau menghendaki suatu keburukan (musibah, azab, atau kemunduran) menimpa suatu kaum, maka tidak ada satu pun kekuatan yang dapat menolaknya. Ini adalah penegasan tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. Namun, penting untuk dipahami bahwa kehendak Allah untuk menimpakan keburukan ini seringkali merupakan konsekuensi dari pilihan dan perbuatan buruk kaum itu sendiri, sebagaimana dijelaskan di bagian sebelumnya (“sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”). Keburukan ini bisa jadi berupa hukuman atas dosa-dosa dan kemaksiatan yang terus-menerus dilakukan tanpa ada perubahan.

4. “وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ” (Dan Sekali-Kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.)

Bagian terakhir ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat memberikan perlindungan, pertolongan, atau pembelaan kepada suatu kaum yang telah ditimpa kehendak buruk Allah, selain Allah itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa ketergantungan manusia hanya kepada Allah. Ketika Allah telah memutuskan suatu perkara, tidak ada kekuatan di langit dan di bumi yang dapat menghalanginya. Ini juga berarti bahwa jika manusia ingin mendapatkan perlindungan, mereka harus kembali kepada Allah, bertobat, dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Dan Pelajaran Dari Ayat Ini :

QS. Ar-Ra’d ayat 11 adalah ayat yang sangat kaya makna, mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang :

1. Penjagaan Allah : Allah senantiasa menjaga hamba-Nya melalui para malaikat.

2. Tanggung Jawab Manusia : Nasib suatu kaum bergantung pada usaha dan perubahan yang mereka lakukan pada diri mereka sendiri. Ini adalah fondasi bagi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa atau individu.

3. Kekuasaan Mutlak Allah : Apabila Allah telah menghendaki sesuatu, baik itu kebaikan maupun keburukan, tidak ada yang dapat menolaknya.

4. Ketergantungan Kepada Allah : Satu-satunya pelindung dan penolong sejati adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ayat ini merupakan motivasi bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri dan kondisi, karena Allah akan memberikan pertolongan kepada mereka yang mau berjuang. Pada saat yang sama, ayat ini menjadi peringatan bahwa kelalaian dan kemaksiatan dapat berujung pada perubahan nasib yang buruk, dan ketika itu terjadi, tidak ada yang dapat menolak kehendak Allah.

Artinya, transformasi hidup bermula dari dalam dari niat, keyakinan, dan kesadaran. Hati yang bersih dan pikiran yang jernih akan menciptakan pengalaman hidup yang penuh kedamaian dan keterarahan. Dunia luar hanya mencerminkan apa yang ada dalam batin manusia.

“Saat Kamu Berubah Dari Dalam, Realitas Di Luar Juga Ikut Berubah.” :

Islam mengajarkan bahwa kehidupan adalah amanah dan ujian. Perubahan internal seperti taubat, peningkatan iman, dan penguatan tawakkal membuka jalan bagi perubahan nasib. Allah berinteraksi dengan hamba-Nya sesuai dengan kadar iman dan amal mereka. Ini sangat paralel dengan konsep energi dalam fisika modern, di mana getaran atau frekuensi menarik realitas yang serupa (law of resonance).

Dalam Kacamata Islam Dan Sains Modern :

Sains modern mengungkap bahwa seluruh alam semesta tersusun dalam keteraturan luar biasa, dari struktur atom hingga gerakan galaksi. Islam sejak 14 abad lalu telah menyingkap hal ini :

وَمَاخَلَقْنَاالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَاإِلَّابِالْحَقِّۗوَإِنَّالسَّاعَةَلَآتِيَةٌۖفَاصْفَحِالصَّفْحَالْجَمِيلَ ٨٥

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”

(QS. Al-Hijr 15 Ayat : 85)

Tafsir Lengkap Ayat :

Ayat ke-85 dari Surah Al-Hijr ini mengandung beberapa pesan mendalam yang saling berkaitan, yaitu tentang penciptaan alam semesta, kepastian hari Kiamat, dan perintah untuk berlapang dada. Mari kita bedah satu per satu :

1. Penciptaan Langit Dan Bumi Dengan Kebenaran (وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ) :

Bagian awal ayat ini menegaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya bukanlah tanpa tujuan atau sia-sia. Penciptaan ini dilakukan “bil-haqq” (dengan benar), yang memiliki beberapa makna :

• Berdasarkan Kebenaran Dan Hikmah : Segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan, hikmah, dan kebenaran yang mutlak. Tidak ada kesia-siaan atau kebatilan dalam ciptaan-Nya. Alam semesta adalah tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, serta bukti keberadaan-Nya.

• Sebagai Bukti Kekuasaan Allah : Penciptaan yang begitu agung dan teratur ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas.

• Sebagai Ujian Bagi Manusia : Penciptaan alam semesta ini juga berfungsi sebagai tempat bagi manusia untuk beramal dan diuji. Manusia diperintahkan untuk merenungi ciptaan ini dan mengambil pelajaran darinya.

• Berlandaskan Keadilan : Penciptaan ini juga berlandaskan keadilan, di mana segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya yang benar dan sesuai dengan fungsinya.

Ayat ini membantah pandangan-pandangan yang menganggap alam semesta tercipta secara kebetulan atau tanpa tujuan yang jelas.

2. Kepastian Hari Kiamat (وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ) :

Setelah menegaskan tujuan penciptaan alam semesta, ayat ini kemudian beralih ke pembahasan tentang Hari Kiamat. Frasa “wa inna as-sa’ata la-aatiyah” (dan sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang) adalah penegasan yang sangat kuat. Ini menunjukkan bahwa :

• Kiamat Adalah Keniscayaan : Kedatangan Hari Kiamat bukanlah kemungkinan, melainkan sebuah kepastian yang tidak dapat dibantah. Ini adalah bagian dari rencana Ilahi untuk mengakhiri kehidupan dunia dan memulai kehidupan akhirat.

• Sebagai Bentuk Pertanggungjawaban : Hari Kiamat akan menjadi hari penghisaban dan pembalasan atas segala amal perbuatan manusia selama hidup di dunia. Ini sejalan dengan penciptaan alam semesta yang “dengan benar”; artinya, kebenaran itu akan terwujud sempurna di Hari Pembalasan. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan balasan baik, dan sebaliknya.

• Motivasi Untuk Beramal Saleh : Pengetahuan tentang kepastian Kiamat seharusnya memotivasi manusia untuk mempersiapkan diri dengan beramal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

3. Perintah Untuk Berlapang Dada (فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ) :

Bagian terakhir ayat ini adalah perintah moral yang sangat penting: “fashfahish shafhal jameel” (maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik). Frasa ini mengandung makna yang dalam :

• “Shafh” (صفح) secara harfiah berarti membalik halaman, yaitu melupakan kesalahan atau mengabaikan keburukan orang lain. Ini lebih dari sekadar memaafkan biasa.

• “Al-Jameel” (الجميل) berarti yang indah, yang baik, atau yang sempurna. Ini menunjukkan kualitas maaf yang diberikan :

• Maaf Yang Tulus : Maaf yang diberikan bukan karena terpaksa atau dengan rasa dendam yang masih tersisa.

• Maaf Yang Melupakan: Artinya, tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang telah dimaafkan, apalagi sampai menimbulkan rasa sakit hati kembali.

• Maaf Yang Membangun : Maaf yang diberikan bertujuan untuk memperbaiki hubungan dan tidak merusak persaudaraan atau kemanusiaan.

• Maaf Tanpa Celaan : Tidak ada cacian atau makian yang menyertai maaf tersebut.

Mengapa Perintah Ini Datang Setelah Penyebutan Penciptaan Dan Kiamat ? :

Ada Korelasi Yang Kuat :

• Keselarasan Dengan Tujuan Penciptaan : Jika Allah menciptakan alam semesta dengan kebenaran dan keindahan, maka sudah sepantasnya manusia juga meniru sifat-sifat kebaikan itu dalam berinteraksi dengan sesama, salah satunya dengan memaafkan.

• Persiapan Menuju Kiamat : Jika Hari Kiamat adalah hari pertanggungjawaban dan pembalasan, maka memaafkan orang lain di dunia akan meringankan beban hisab di akhirat. Dengan berlapang dada, seseorang akan membersihkan hatinya dari dendam dan kebencian, yang akan bermanfaat baginya kelak.

• Menghadapi Tantangan Dakwah : Ayat ini juga turun dalam konteks dakwah Nabi Muhammad ﷺ yang seringkali menghadapi penolakan, ejekan, dan permusuhan dari kaum musyrikin. Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk berlapang dada dan memaafkan mereka, karena pada akhirnya Allah-lah yang akan mengadili. Perintah ini berlaku juga bagi umat Islam secara umum dalam menghadapi kesulitan dan perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.

Kesimpulan Dan Pelajaran Dari Ayat Ini :

Ayat 85 dari Surah Al-Hijr ini adalah pengingat yang komprehensif tentang kekuasaan dan hikmah Allah dalam penciptaan, kepastian Hari Kiamat sebagai hari pertanggungjawaban, dan pentingnya sikap berlapang dada serta memaafkan dengan cara yang terbaik dalam kehidupan sosial. Ini adalah landasan moral dan spiritual bagi seorang Muslim untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan kebaikan.

Dalam kosmologi Islam, semesta adalah manifestasi dari kehendak dan ilmu Allah yang Maha Sempurna. Tidak ada satu pun ciptaan yang sia-sia semuanya menyimpan makna dan fungsi. Bahkan partikel terkecil tunduk kepada hukum yang ditetapkan-Nya.

Diri manusia dan alam semesta terhubung secara spiritual dan ilmiah. Perubahan batin kita berdampak pada pengalaman eksternal karena seluruh realitas adalah bagian dari skenario Ilahi. Dengan memahami ini, kita diajak untuk bertumbuh dari dalam menyucikan hati, memperdalam iman, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar kebetulan, tapi bagian dari rencana Allah yang penuh makna.

Ungkapan “realitas adalah cerminan kesadaranmu” sering kali terdengar dalam diskusi spiritual, filsafat, maupun pengembangan diri modern. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap hubungan antara kesadaran manusia dan realitas yang ia alami? Dalam kerangka Islam, kesadaran bukan hanya sekadar kemampuan berpikir, tetapi juga kesadaran spiritual (al-idrāk al-rūḥī) yang terkait erat dengan tauhid, takwa, dan hubungan manusia dengan Allah (Tuhan Semesta Alam).

Pernahkah kita bertanya: Apakah dunia luar benar-benar terlepas dari apa yang kita pikirkan atau rasakan? Dalam era modern, ilmu pengetahuan semakin mendekat pada satu pemahaman mendalam bahwa realitas tidak sepenuhnya objektif, melainkan memiliki dimensi subjektif yang dipengaruhi oleh kesadaran manusia. Uniknya, prinsip ini bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Al-Qur’an dan para ulama besar telah menyingkap bahwa kesadaran manusia qalb, nafs, dan ruh adalah pusat interaksi antara manusia dan kenyataan.

Di zaman modern ini, kita hidup dalam dunia yang semakin terbuka terhadap berbagai sudut pandang dalam memahami realitas. Namun, satu gagasan yang mulai mendapat perhatian dari ilmuwan dan filsuf kontemporer adalah bahwa realitas eksternal bukanlah sesuatu yang sepenuhnya objektif, melainkan dapat dipengaruhi bahkan dibentuk oleh kesadaran. Paradigma ini selaras dengan wawasan spiritual Islam yang telah diungkap berabad-abad silam melalui Al-Qur’an: bahwa semesta ini tidak hadir secara acak, melainkan sebagai pantulan dari kehendak Ilahi, dan setiap manusia memiliki peran dalam menyadari makna di baliknya.

Kesadaran Dan Realitas Perspektif Sains Modern :

Dalam fisika kuantum, salah satu temuan yang menggugah adalah prinsip pengamat (observer effect).

Eksperimen seperti Double Slit Experiment menunjukkan bahwa partikel dapat bersifat sebagai gelombang atau materi tergantung apakah sedang diamati atau tidak. Ini menimbulkan pertanyaan filosofis: Apakah kesadaran kita mempengaruhi realitas fisik ?

Lebih jauh, teori kesadaran seperti panpsikisme dan idealism dalam fisika modern mulai menyarankan bahwa kesadaran bukanlah produk dari otak, melainkan dasar dari eksistensi itu sendiri. Maka, muncul pemahaman bahwa semesta ini memiliki dimensi mental dan spiritual yang melekat, sesuatu yang dalam Islam telah lama dijelaskan dalam bahasa wahyu.

Al-Qur’an Dan Kesadaran Kosmik :

Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab petunjuk spiritual, tetapi juga menyimpan isyarat ilmiah dan metafisik yang menakjubkan. Salah satu ayat kunci dalam memahami hubungan antara realitas dan kesadaran adalah :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ٥٣

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidakkah cukup bagimu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu ?”

(QS. Fussilat 41 Ayat : 53

Tafsir Lengkap Ayat :

Ayat ini merupakan salah satu ayat fundamental dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang bukti-bukti kebenaran Islam dan Al-Qur’an yang terhampar luas di alam semesta dan pada diri manusia sendiri.

1. “Kami Akan Memperlihatkan Kepada Mereka Tanda-Tanda (Kekuasaan) Kami Di Segenap Penjuru…” (سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ) :

Bagian ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menunjukkan bukti-bukti nyata kekuasaan dan keesaan-Nya di “segenap penjuru” atau di ufuk yang luas. Ini mencakup segala fenomena alam semesta yang menakjubkan dan kompleks :

• Keagungan Alam Semesta : Dari galaksi-galaksi yang tak terhingga, bintang-bintang, planet-planet dengan orbitnya yang teratur, hingga fenomena cuaca, siklus air, pergantian siang dan malam. Semuanya menunjukkan adanya Pengatur yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

• Hukum-Hukum Alam Yang Konsisten : Fisika, kimia, biologi, dan ilmu pengetahuan lainnya yang terus berkembang, semakin membuktikan adanya desain yang sempurna dan hukum-hukum yang tak terbantahkan yang mengatur seluruh alam. Ini adalah bukti bahwa alam semesta tidak terjadi secara kebetulan.

• Peristiwa Sejarah : Kejadian-kejadian di masa lalu, kebangkitan dan keruntuhan peradaban, juga dapat menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang mau merenung. Allah memperlihatkan bagaimana janji-Nya kepada para nabi ditepati dan bagaimana orang-orang yang mendustakan-Nya mendapat balasan.

Dalam konteks modern, penemuan-penemuan ilmiah yang semakin canggih, mulai dari astronomi hingga biologi molekuler, semakin mengungkap kompleksitas dan keteraturan alam yang sejalan dengan apa yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama (Islam) tidaklah bertentangan, melainkan saling menguatkan.

2. “…Dan Pada Diri Mereka Sendiri,” (وَفِي أَنفُسِهِمْ) :

Ayat ini kemudian mengarahkan perhatian pada bukti-bukti kebesaran Allah yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Diri manusia adalah mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos :

• Penciptaan Manusia Yang Sempurna : Struktur tubuh manusia yang luar biasa kompleks dan berfungsi secara harmonis, mulai dari sistem saraf, peredaran darah, pencernaan, hingga otak yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berpikir, merasakan, dan menciptakan. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa Pencipta yang Maha Hebat.

• Kemampuan Mental Dan Spiritual : Akal, hati nurani, emosi, keinginan untuk mencari makna hidup, dan kesadaran akan adanya Yang Maha Tinggi. Ini adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

• Proses Kehidupan : Dari setetes air mani menjadi janin, lalu tumbuh menjadi manusia dewasa, mengalami berbagai fase kehidupan, hingga kematian. Setiap tahap ini penuh dengan keajaiban yang menunjukkan kekuasaan dan pengetahuan Allah yang tak terbatas.

• Variasi Manusia : Meskipun semua manusia memiliki struktur dasar yang sama, terdapat variasi yang tak terhingga dalam penampilan, bakat, dan karakter, yang juga merupakan tanda kebesaran-Nya.

Ayat ini mendorong manusia untuk berintrospeksi dan merenungi dirinya sendiri, dari sel terkecil hingga sistem tubuh yang paling kompleks. Semakin manusia mengenal dirinya, semakin ia akan mengenal Penciptanya.

3. “…Sehingga Jjelas Bagi Mereka Bahwa Al-Qur’an Itu Adalah Benar.” (حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ) :

Tujuan dari penampakan tanda-tanda di ufuk dan pada diri manusia adalah agar terbukti dan jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah kebenaran (Al-Haq). Maksudnya :

• Al-Qur’an Sebagai Penjelas : Tanda-tanda alam dan diri manusia ini bukan hanya menunjukkan keberadaan Allah, tetapi juga membuktikan kebenaran wahyu-Nya, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an datang sebagai petunjuk yang menjelaskan makna di balik tanda-tanda tersebut, mengarahkan manusia kepada tujuan penciptaannya, dan mengajarkan cara hidup yang benar.

• Konsistensi Al-Qur’an Dengan Realitas : Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fenomena alam dan penciptaan manusia selalu konsisten dengan penemuan ilmiah (ketika ilmu pengetahuan telah matang). Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berasal dari sumber yang sama dengan penciptaan alam semesta dan manusia, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

• Penguatan Iman : Bagi orang yang beriman, tanda-tanda ini semakin menguatkan keyakinannya. Bagi orang yang meragukan, tanda-tanda ini diharapkan dapat membuka mata hati mereka untuk menerima kebenaran.

4. “Tidakkah Cukup Bagimu Bahwa Tuhanmu Menjadi Saksi Atas Segala Sesuatu ?” (أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ) :

Bagian terakhir ayat ini merupakan sebuah pertanyaan retoris yang menegaskan: Bukankah cukup Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi saksi atas segala sesuatu ?

• Allah Sebagai Saksi Sempurna : Allah adalah Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Mengatur. Dia adalah saksi atas segala perbuatan manusia, segala fenomena di alam semesta, dan segala kebenaran. Kesaksian Allah adalah kesaksian yang paling sempurna dan tak terbantahkan.

• Kecukupan Bukti : Setelah Allah menunjukkan begitu banyak tanda di alam semesta dan dalam diri manusia, serta memberikan wahyu yang jelas, maka seharusnya tidak ada lagi keraguan. Cukuplah kesaksian Allah sebagai penjamin kebenaran. Jika Allah sendiri bersaksi bahwa Al-Qur’an adalah benar, dan Dia menampakkan bukti-buktinya, maka tidak ada lagi alasan untuk mendustakannya.

• Implikasi Bagi Manusia : Pertanyaan ini juga merupakan teguran lembut bagi mereka yang masih ragu, seolah bertanya : “Apa lagi yang kalian butuhkan sebagai bukti? Apakah kesaksian dari Tuhan yang menciptakan dan menguasai segala sesuatu tidaklah cukup bagi kalian ?”

Kesimpulan Dan Pelajaran Dari Ayat Ini :

Secara keseluruhan, QS. Fussilat ayat 53 adalah sebuah seruan untuk berpikir, merenung, dan mengamati. Ia mengajarkan bahwa kebenaran Islam dan Al-Qur’an tidak hanya berdasarkan klaim semata, tetapi didukung oleh bukti-bukti empiris dan rasional yang terhampar luas bagi siapa saja yang mau membuka mata dan hatinya. Ayat ini mendorong manusia untuk menghubungkan fenomena alam dan keberadaan dirinya dengan Sang Pencipta, sehingga sampai pada keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda-tanda keberadaan Allah dan hakikat realitas tidak hanya terlihat di luar (alam semesta), tetapi juga dalam diri manusia sendiri dalam kesadarannya. Islam secara halus mengajarkan bahwa realitas eksternal dan internal saling mencerminkan.

Tauhid Dan Keterpaduan Realitas :

Konsep tauhid dalam Islam bukan hanya keesaan Tuhan secara teologis, tetapi juga penyatuan seluruh aspek realitas dalam satu kehendak dan tujuan Ilahi. Segala yang ada di alam semesta tunduk kepada sunnatullah hukum-hukum Tuhan dan tidak ada yang terjadi secara kebetulan.

Dalam Surah At-Taghabun [64] Ayat : 11, Allah Berfirman :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ١١

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(QS. At-Taghabun Ayat : 11)

Tafsir Lengkap Ayat :

Ayat ini merupakan salah satu ayat fundamental dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang takdir, keimanan, dan hikmah di balik musibah. Mari kita bedah makna-maknanya :

1. “Tidak Ada Suatu Musibah Pun Yang Menimpa (Seseorang) Kecuali Dengan Izin Allah.” :

Bagian pertama ayat ini menegaskan prinsip takdir Ilahi. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, termasuk musibah, bencana, kesulitan, atau bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan, tidaklah terjadi secara kebetulan. Semuanya berada dalam pengetahuan, kehendak, dan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

• Musibah : Kata muṣībah (مصيبة) mencakup segala sesuatu yang menimpa manusia dan dirasakan tidak menyenangkan, baik itu kehilangan harta, sakit, kematian orang yang dicintai, kegagalan, atau kesulitan lainnya.

• Dengan Izin Allah : Frasa bi’iżnillāh(i) (بإذن الله) menunjukkan bahwa tidak ada musibah yang terjadi di luar kendali dan kehendak-Nya. Ini bukan berarti Allah “menginginkan” penderitaan bagi hamba-Nya tanpa sebab, melainkan bahwa Dia mengizinkan peristiwa tersebut terjadi sebagai bagian dari rencana-Nya yang lebih besar, yang mungkin kita tidak pahami sepenuhnya.

• Implikasi : Pemahaman ini mengajarkan kita untuk menerima segala takdir dengan lapang dada, karena kita tahu bahwa di balik setiap kejadian, pasti ada hikmah dan kebaikan yang Allah rencanakan, meskipun mungkin tidak terlihat pada awalnya. Hal ini juga menumbuhkan sikap tawakal (berserah diri) dan menghilangkan prasangka buruk terhadap takdir.

2. “Barang Siapa Beriman Kepada Allah, Niscaya Dia Akan Memberi Petunjuk Kepada Hatinya.” :

Bagian kedua ini menjelaskan konsekuensi dari keimanan yang kokoh dalam menghadapi takdir Allah, khususnya musibah.

• Beriman Kepada Allah : Ini bukan hanya sekadar mengakui keberadaan Allah, tetapi keimanan yang mencakup keyakinan akan rububiyah (kekuasaan dan pengaturan-Nya), uluhiyah (hak-Nya untuk disembah), dan asma wa sifat-Nya (nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Dalam konteks ayat ini, keimanan juga berarti percaya bahwa Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil dalam setiap ketetapan-Nya.

• Memberi Petunjuk Kepada Hatinya : Frasa Yahdi Qalbahu (يهد قلبه) memiliki makna yang sangat mendalam. Artinya, Allah akan menguatkan hati orang yang beriman dalam menghadapi musibah. Petunjuk ini bisa berupa :

• Kesabaran : Allah akan menganugerahkan kekuatan untuk bersabar dan tidak putus asa.

• Ketenangan : Hati menjadi tenang dan tidak bergejolak dalam menghadapi kesulitan.

• Penglihatan Yang Jernih : Mampu melihat hikmah di balik musibah, bahwa mungkin ada dosa yang dihapus, derajat yang ditinggikan, atau peringatan dari Allah.

• Kembali Kepada Allah : Musibah menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya, memperbanyak doa, zikir, dan introspeksi.

• Keyakinan Akan Janji Allah : Orang yang beriman yakin bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan bahwa setiap musibah akan menjadi penggugur dosa jika dihadapi dengan sabar dan rida.

• Implikasi : Ayat ini memberikan harapan dan jaminan bagi orang-orang beriman. Meskipun musibah itu pahit, keimanan akan menjadi kompas yang menuntun hati untuk tetap berada di jalan yang benar, tidak menyerah pada keputusasaan, dan senantiasa berprasangka baik kepada Allah.

3. “Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” :

Bagian penutup ayat ini menegaskan salah satu sifat agung Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu Al-‘Alim (Maha Mengetahui).

• Maha Mengetahui Segala Sesuatu : Ini mencakup pengetahuan Allah yang meliputi segala hal, baik yang tersembunyi maupun yang nampak, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, yang ada di langit maupun di bumi.

• Hubungan Dengan Ayat Sebelumnya : Penegasan sifat Maha Mengetahui ini menguatkan dua poin sebelumnya. Karena Allah Maha Mengetahui segalanya, Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Dia tahu kapan dan bagaimana sebuah musibah harus terjadi, dan Dia tahu hikmah di baliknya yang mungkin tidak kita pahami. Pengetahuan-Nya sempurna, tidak terbatas, dan tidak ada yang luput dari-Nya.

• Implikasi : Pemahaman bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu akan menumbuhkan keyakinan penuh pada ketetapan-Nya. Kita tidak perlu khawatir atau ragu akan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, karena Dia mengetahui segala aspek dari setiap kejadian.

Kesimpulan Dan Pelajaran Dari Ayat Ini :

Ayat 11 dari Surah At-Taghabun ini adalah pengingat yang kuat bagi setiap Muslim tentang realitas takdir dan pentingnya keimanan. Ia mengajarkan kita bahwa :

1. Setiap musibah adalah atas izin Allah, dan tidak ada yang terjadi secara kebetulan.

2. Keimanan yang kokoh akan membimbing hati untuk bersabar, rida, dan menemukan hikmah di balik musibah.

3. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, sehingga kita dapat sepenuhnya percaya pada kebijaksanaan dan keadilan-Nya dalam setiap takdir yang menimpa kita.

Dengan memahami dan menginternalisasi ayat ini, seorang Muslim akan lebih siap menghadapi liku-liku kehidupan, menerima takdir dengan hati yang lapang, dan senantiasa bersandar hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam konteks ini, kesadaran manusia yang bersih dan ikhlas akan mampu menyaksikan keteraturan dan keindahan semesta, karena ia selaras dengan sumber realitas itu sendiri Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Realitas bukanlah sesuatu yang asing, tetapi cermin dari kesadaran yang telah menyatu dengan Tuhannya.

Manusia Sebagai Mikrokosmos :

Dalam banyak literatur tasawuf dan filsafat Islam, manusia disebut sebagai mikrokosmos dunia kecil yang mencerminkan keseluruhan jagat raya (makrokosmos). Imam Al-Ghazali, misalnya, menyatakan bahwa :

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Pengetahuan tentang diri (kesadaran) membuka tirai terhadap realitas hakiki. Dalam pandangan ini, alam semesta adalah proyeksi dari kehendak Ilahi, dan manusia memiliki potensi untuk memahami dan menyaksikannya melalui perenungan dan penyucian jiwa.

Apa Itu Mikrokosmos ? :

Mikrokosmos berasal dari bahasa Yunani: mikros berarti “kecil” dan kosmos berarti “dunia” atau “alam semesta.” Secara harfiah, mikrokosmos berarti “dunia kecil.”

Dalam konteks filsafat dan ilmu pengetahuan, mikrokosmos merujuk pada representasi kecil dari alam semesta (makrokosmos). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan manusia atau suatu sistem kecil sebagai cerminan dari alam semesta yang lebih besar.

Penjelasan Mikrokosmos :

1. Dalam Filsafat Klasik :

• Filsuf seperti Plato dan Hermes Trismegistus menggunakan konsep mikrokosmos untuk menggambarkan manusia sebagai miniatur dari alam semesta.

• Mereka percaya bahwa segala unsur yang ada di alam (makrokosmos) juga ada dalam diri manusia (mikrokosmos), seperti unsur tanah, air, udara, dan api.

2. Dalam Ilmu Pengetahuan Dan Biologi :

• Mikrokosmos bisa merujuk pada ekosistem kecil yang menggambarkan struktur dan dinamika dari sistem alam yang lebih besar, misalnya sebuah kolam kecil yang merepresentasikan hubungan ekologis di seluruh planet.

3. Dalam Budaya dan Sastra :

• Mikrokosmos sering digunakan secara metaforis untuk menggambarkan situasi kecil atau kelompok masyarakat yang mencerminkan kondisi dunia secara keseluruhan.

Kesimpulan Tentang Mikrokosmos :

Mikrokosmos adalah gambaran kecil dari alam semesta yang luas. Ia membantu manusia memahami hubungan antara yang kecil dan besar, antara individu dan keseluruhan, serta menunjukkan bahwa dalam skala kecil pun, kita bisa melihat refleksi dari dunia yang lebih luas.

Integrasi Sains Dan Spiritualitas Islam :

Sains modern, khususnya dalam bidang kosmologi dan fisika partikel, kini menunjukkan bahwa alam semesta memiliki struktur yang sangat halus, teratur, dan nyaris mustahil terjadi secara kebetulan.

Misalnya, konstanta fisika yang sangat presisi dalam menopang kehidupan (fine-tuning) mengindikasikan adanya desain cerdas di balik semesta ini.

Al-Qur’an Menegaskan Dalam QS. Ad-Dukhan Ayat 38 :

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَٰعِبِينَ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

QS. Ad-Dukhan Ayat 38

Tafsir Lengkap Ayat :

Ayat ini merupakan penegasan penting dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang tujuan penciptaan alam semesta. Mari kita bedah lebih lanjut tafsirnya :

1. “وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ” (Dan Tidaklah Kami Ciptakan Langit Dan Bumi) :

• Bagian ini menegaskan bahwa Allah adalah pencipta tunggal langit dan bumi, yang mencakup seluruh alam semesta yang terhampar luas. Penggunaan kata “Kami” di sini adalah bentuk ta’zhim (pengagungan diri) yang biasa digunakan oleh Allah dalam Al-Qur’an, bukan berarti ada banyak pencipta.

2. “وَمَا بَيْنَهُمَا” (Dan Apa Yang Ada Di Antara Keduanya) :

• Frasa ini merujuk kepada segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat oleh manusia. Ini mencakup bintang-bintang, planet-planet, galaksi, awan, gunung, lautan, makhluk hidup, dan segala fenomena alam lainnya. Ayat ini mencakup seluruh ciptaan Allah.

3. “لَاعِبِينَ” (Melainkan Dengan Tujuan Yang Benar / Bermain-Main) :

• Inilah inti dari ayat ini. Kata “لَاعِبِينَ” (la’ibin) berasal dari kata dasar “la’iba” yang berarti bermain-main, bercanda, atau tanpa tujuan serius. Jadi, ketika Allah berfirman “Dan tidaklah Kami ciptakan… melainkan dengan tujuan yang benar,” ini adalah penegasan kuat bahwa penciptaan alam semesta ini bukanlah suatu kesia-siaan, bukan main-main, dan bukan tanpa makna.

• Tujuan Yang Benar : Lalu, apa tujuan yang benar itu? Ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an menjelaskan tujuan ini secara lebih rinci, di antaranya :

• Sebagai Tanda-Tanda Kebesaran Allah (Ayatullah) : Langit, bumi, dan segala isinya adalah bukti nyata akan kekuasaan, kebijaksanaan, dan keesaan Allah. Observasi terhadap alam semesta akan membawa manusia pada pengenalan terhadap Sang Pencipta.

• Tempat Ujian Bagi Manusia : Bumi ini adalah medan ujian bagi manusia untuk melihat siapa di antara mereka yang paling baik amalnya (QS. Al-Mulk: 2). Kehidupan di dunia ini adalah jembatan menuju kehidupan abadi di akhirat.

• Untuk Beribadah Kepada Allah : Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Ibadah di sini bukan hanya ritual semata, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan yang sesuai dengan syariat-Nya.

• Menunjukkan Kebenaran Hari Kebangkitan Dan Pembalasan : Karena penciptaan ini memiliki tujuan, maka pasti ada hari perhitungan dan pembalasan. Tidak masuk akal jika Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan, namun tidak ada konsekuensi atas perbuatan manusia di dalamnya.

Kesimpulan Dan Pelajaran Dari Ayat Ini :

QS. Ad-Dukhan ayat 38 mengajarkan kepada kita bahwa alam semesta ini adalah ciptaan yang agung, tertata, dan memiliki tujuan yang sangat penting. Ini menolak pandangan kaum materialis atau ateis yang menganggap alam semesta tercipta secara kebetulan atau tanpa makna. Bagi seorang mukmin, ayat ini menguatkan keyakinan akan kebijaksanaan Allah, pentingnya hidup ini, dan adanya pertanggungjawaban di akhirat.

Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa realitas baik dalam skala makrokosmos (galaksi, bintang) maupun mikrokosmos (partikel) memiliki tujuan dan arah, bukan semata-mata chaos yang tak bermakna.

Menjadi Cermin Cahaya Ilahi :

Dalam kesadaran spiritual Islam, manusia didorong untuk mengosongkan diri dari ego dan keakuan, agar ia bisa menjadi cermin bagi cahaya Ilahi. Dalam kondisi ini, kesadaran manusia tidak lagi terpisah dari realitas, tetapi menyatu dan mampu menyaksikan kebenaran yang sejati.

Realitas, dalam kacamata Islam, bukan sekadar apa yang terlihat oleh mata lahiriah, tetapi lebih dalam: ia adalah refleksi dari kesadaran dan kondisi batin seseorang. Maka, semakin jernih kesadaranmu, semakin jernih pula realitas yang engkau saksikan.

(Bersambung)

📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

Editor   : MUH. IKHSAN AM 

INSPIRATOR-RAKYAT.COM )

PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )

1. Sumber :

2. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-013-011/

3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-015-085/

4. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-041-053/

5. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-064-011/

6. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-044-038/