Suatu Saat Nanti Jika Allah Izinkan Kamu Menggapai Mimpi Itu Berjanjilah Untuk Tetap Rendah Hati

Inspirator-Rakyat.com, Makassar-Suatu Saat Nanti Jika Allah Izinkan Kamu Menggapai Mimpi Itu Berjanjilah Untuk Tetap Rendah Hati

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

Suatu Saat Nanti Jika Allah Izinkan Kamu Menggapai Mimpi Itu Berjanjilah Untuk Tetap Rendah Hati

Oleh : MUH. IKHSAN AM

Setiap insan diciptakan dengan fitrah ingin bermimpi dan berjuang mewujudkan harapan. Dalam Islam, mimpi yang baik adalah bentuk cita-cita mulia yang jika dibingkai dengan niat yang lurus dan usaha yang halal, menjadi bagian dari ibadah. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa sebesar apapun mimpi yang tercapai, ada satu sikap yang harus selalu menyertai: tawadhu’ (rendah hati).

Sebagaimana Kalimat Penuh Makna :

“Suatu saat nanti jika Allah izinkan kamu menggapai mimpi itu, berjanjilah untuk tetap rendah hati.”
Kalimat ini mencerminkan pandangan Islam yang mendalam tentang takdir, usaha, dan akhlak.

1. Mimpi Dan Takdir Allah Sebagai Penentu Segalanya :

Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap keberhasilan tidak lepas dari kehendak Allah. Allah berfirman :

1. وَمَاتَشَاءُونَإِلَّاأَنيَشَاءَاللَّهُرَبُّالْعَالَمِينَ ٢٩

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”

QS : At-Takwir Ayat : 29

Tafsir Singkat QS : At-Takwir Ayat : 29

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya dalam Surah At-Takwir yang berbicara tentang Al-Qur’an sebagai peringatan bagi seluruh alam, dan tentang kebebasan memilih bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan yang lurus. Ayat 29 ini kemudian menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam Islam, yaitu kekuasaan dan kehendak mutlak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berikut Adalah Poin-Poin Penting Dari Tafsir Ayat Ini :

1. Kehendak Manusia Terbatas : Ayat ini menjelaskan bahwa meskipun manusia diberikan kebebasan untuk berkehendak dan memilih (terutama dalam hal menempuh jalan kebaikan atau keburukan), kehendak manusia itu tidak berdiri sendiri. Kehendak manusia selalu berada dalam lingkup dan di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini berarti bahwa apa pun yang diinginkan atau direncanakan manusia, tidak akan terwujud kecuali jika Allah mengizinkannya atau menghendakinya.

2. Kekuasaan Allah Mutlak : Frasa “kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam” menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa mutlak atas segala sesuatu di alam semesta. Kehendak-Nya adalah yang paling tinggi dan meliputi segala sesuatu. Tidak ada kehendak yang dapat melampaui atau menandingi kehendak-Nya.

3. Keseimbangan Antara Kehendak Manusia Dan Kehendak Tuhan : Ayat ini mengajarkan keseimbangan penting antara kebebasan berkehendak yang diberikan kepada manusia dan kehendak ilahi. Manusia memiliki pilihan dan harus berusaha (ikhtiar), namun hasil akhir dan kemudahan dalam mencapai sesuatu tetap bergantung pada izin dan kehendak Allah. Ini mendorong manusia untuk tetap bersandar kepada Allah (tawakal) setelah melakukan usaha terbaiknya.

4. Menghindari Kesombongan : Ayat ini juga berfungsi sebagai pengingat agar manusia tidak sombong atau merasa mampu melakukan segala sesuatu atas dasar kekuatannya sendiri. Segala keberhasilan atau kemudahan yang didapatkan adalah karena kehendak dan rahmat Allah.

Secara ringkas, QS. At-Takwir Ayat 29 mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dan pilihan, namun kehendak tersebut selalu berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Ini menegaskan bahwa Allah adalah Pengatur segala sesuatu dan segala sesuatu terjadi atas izin-Nya.

Mimpi yang diraih sejatinya adalah hasil dari ikhtiar yang dipadukan dengan doa, lalu Allah mengizinkan terjadinya sesuai dengan takdir-Nya. Maka, seorang muslim tidak boleh takabur atas pencapaiannya, karena ia hanyalah perantara dari takdir yang telah ditulis Allah.

2. Kerendahan Hati Perhiasan Orang Beriman :

Islam sangat menekankan akhlak tawadhu’ sebagai cermin keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

“لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.”

(رواه مسلم)

Artinya :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Beliau Bersabda :

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi (seberat timbangan atom/zarrah).”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Penjelasan Singkat Hadist :

Hadist ini adalah peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengenai dosa kesombongan. Beberapa poin penting dari hadist ini adalah :

1. “Tidak Akan Masuk Surga” : Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah dosa yang sangat besar dan dapat menghalangi seseorang dari masuk surga, setidaknya pada awalnya. Para ulama menjelaskan bahwa ini bisa berarti tidak masuk surga bersama orang-orang yang pertama kali masuk surga (tanpa hisab), atau akan disucikan terlebih dahulu di neraka jika kesombongan tersebut belum diampuni.

2. “Di Dalam Hatinya” : Menunjukkan bahwa kesombongan adalah penyakit hati. Ini bukan hanya tentang tindakan lahiriah, tetapi lebih pada kondisi batin seseorang yang merasa lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain.

3. “Walaupun Sebesar Biji Sawi (Mithqal Dharrah)” : Frasa ini menggambarkan betapa sedikitnya kesombongan yang dapat menghalangi seseorang dari surga. “Mithqal dharrah” secara harfiah berarti seberat atom atau zarrah, yang merupakan ukuran terkecil yang bisa dibayangkan pada masa itu. Ini menekankan bahwa bahkan kesombongan yang paling ringan pun berbahaya.

Kesombongan adalah sifat yang sangat tercela karena bertentangan dengan tauhid dan merusak hubungan seseorang dengan Allah dan sesama manusia. Orang yang sombong merasa dirinya besar dan meremehkan orang lain, padahal kebesaran dan keagungan hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sikap rendah hati menunjukkan kesadaran bahwa apa yang dimiliki baik harta, ilmu, kedudukan, maupun mimpi yang tercapai bukan milik mutlak pribadi, melainkan titipan Allah. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, dikenal sebagai sosok yang paling rendah hati. Beliau tidak meninggikan diri meski menjadi kekasih Allah.

3. Tantangan Kesombongan Saat Mimpi Tercapai :

Kenyataan yang sering terjadi adalah ketika seseorang berhasil meraih apa yang diimpikan entah menjadi ilmuwan, pengusaha sukses, pejabat, atau tokoh ia cenderung merasa lebih tinggi dari orang lain. Di sinilah setan membisikkan ujub, riya’, dan takabur. Padahal Allah mengingatkan :

1. وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ١٨

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

(QS. Luqman Ayat : 18

Tafsir Singkat QS : QS. Luqman Ayat : 18

Ayat ini merupakan kelanjutan dari nasihat Luqman kepada putranya tentang akhlak mulia dan adab dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Secara garis besar, tafsir ayat ini adalah sebagai berikut :

1. “Dan Janganlah Kamu Memalingkan Mukamu Dari Manusia (Karena Sombong)” : Frasa ini menggambarkan larangan untuk bersikap angkuh, meremehkan, atau memalingkan wajah seolah-olah tidak menganggap keberadaan orang lain. Ini adalah bentuk kesombongan dan sikap merendahkan. Luqman mengajarkan agar kita bersikap ramah, rendah hati, dan mudah senyum kepada siapa pun, tanpa memandang status sosial atau kekayaan.

2. “Dan Janganlah Kamu Berjalan Di Muka Bumi Dengan Angkuh.” : Bagian ini melarang sikap sombong dalam tingkah laku, khususnya cara berjalan. Berjalan dengan angkuh, membusungkan dada, atau menghentakkan kaki menunjukkan keangkuhan dan kesombongan. Orang yang rendah hati akan berjalan dengan tenang, sederhana, dan tidak berlagak.

3. “Sesungguhnya Allah Tidak Menyukai Orang-Orang Yang Sombong Lagi Membanggakan Diri.” : Ini adalah penegasan sekaligus alasan mengapa dilarang bersikap demikian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat membenci sifat sombong (mukhtal) dan membanggakan diri (fakhoor). Sifat sombong adalah pangkal dari banyak keburukan akhlak, karena ia membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, menolak kebenaran, dan enggan menerima nasihat. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berlaku demikian, karena hal itu bertentangan dengan esensi tauhid dan kerendahan hati yang diajarkan dalam Islam.

Inti dari ayat ini adalah pengajaran untuk menjaga kerendahan hati dalam berinteraksi sosial dan dalam setiap tingkah laku, serta menjauhi segala bentuk kesombongan yang dapat merusak hubungan dengan sesama manusia dan juga hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sikap sombong hanya akan menjatuhkan seseorang, menjadikannya hina di mata Allah dan sesama manusia. Sebaliknya, kerendahan hati menjadikan seseorang lebih mulia, bahkan Allah menjanjikan :

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

رواه مسلم

Artinya :

“Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(HR. Muslim)

Penjelasan Singkat Hadist :

Hadist ini mengajarkan kita tentang keutamaan tawadhu’ (kerendahan hati). Poin-poin penting dari hadis ini adalah :

1. Merendahkan Diri Karena Allah : Ini berarti seseorang bersikap rendah hati bukan karena ingin dipuji manusia, mencari popularitas, atau karena paksaan, melainkan murni karena ingin mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerendahan hati di sini mencakup tidak sombong, tidak merasa lebih baik dari orang lain, mengakui kekurangan diri, dan bersedia menerima kebenaran dari siapapun.

2. Allah akan mengangkat derajatnya: Pengangkatan derajat ini bisa bermakna beragam:

• Di dunia: Allah akan menjadikan orang tersebut mulia di mata manusia, dicintai, dihormati, dan diberi kemudahan dalam urusan dunia.

• Di akhirat: Allah akan memberikan pahala yang besar, kedudukan yang tinggi di surga, dan kemuliaan di sisi-Nya.

Jadi, hadist ini menegaskan bahwa kerendahan hati adalah sifat terpuji yang membawa keberkahan dan kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat, asalkan dilandasi oleh niat ikhlas karena Allah.

4. Janji Seorang Muslim Mimpi Yang Menguatkan Akhlak :

Setiap mimpi harus dibingkai dengan niat baik untuk menolong sesama, membangun peradaban, dan mendekatkan diri kepada Allah. Maka, berjanjilah dalam hati :

“Jika mimpi ini tercapai, aku tidak akan berubah menjadi sombong. Aku akan terus bersujud, dan tetap menjadi hamba yang rendah hati.”

Dengan janji ini, kita menjaga ruh spiritual dalam keberhasilan. Mimpi menjadi sarana mendekat, bukan menjauh, dari Allah.

Menggapai Mimpi Dengan Hati Yang Rendah Sebuah Janji Dalam Bingkai Islam :

Setiap insan memiliki cita-cita, harapan, dan impian yang ingin digapainya. Dari sekadar keinginan kecil hingga ambisi besar yang mengubah dunia, mimpi adalah bahan bakar yang mendorong kita melangkah. Kalimat “Suatu saat nanti, jika Allah izinkan kamu menggapai mimpi itu, berjanjilah untuk tetap rendah hati” mengandung pesan yang sangat mendalam, terutama jika kita meniliknya dari kacamata ajaran Islam. Ini bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah prinsip hidup yang harus dipegang teguh.

Mimpi Sebagai Karunia Dan Ujian :

Dalam Islam, mimpi atau cita-cita yang luhur adalah bagian dari fitrah manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahi kita akal, potensi, dan keinginan untuk maju. Menggapai mimpi bisa menjadi bentuk ibadah ketika niatnya adalah untuk memberi manfaat bagi sesama, menegakkan keadilan, atau mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, perlu diingat bahwa proses dan hasil dari menggapai mimpi tersebut adalah ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Berfirman Dalam Al-Qur’an :

1. أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ٢

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?”

QS. Al-Ankabut Ayat : 2

Tafsir Singkat QS : QS. Al-Ankabut Ayat : 2

Ayat ini adalah teguran keras sekaligus peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia. Inti dari ayat ini adalah :

1. Iman Bukan Sekadar Ucapan : Ayat ini menolak gagasan bahwa keimanan itu cukup hanya dengan mengucapkan “Kami telah beriman” atau mengakui percaya. Keimanan sejati jauh lebih dalam dari itu.

2. Ujian Adalah Keniscayaan : Allah menjelaskan bahwa ujian (baik berupa kesulitan, cobaan, godaan, atau bahkan kemudahan) adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan keimanan.

Ujian Iini Berfungsi Untuk :

• Menguji Kejujuran Iman : Membuktikan apakah keimanan seseorang itu tulus dan kuat, ataukah hanya di bibir saja.

• Memurnikan Jiwa : Ujian dapat membersihkan dosa-dosa dan meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah.

• Membedakan Yang Jujur Dan Pendusta : Melalui ujian, akan terlihat siapa yang benar-benar teguh pada keimanannya dan siapa yang akan goyah atau berbalik arah.

3. Sunnatullah (Hukum Allah) : Ayat ini menegaskan bahwa ini adalah sunnatullah atau hukum alamiah yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Sejak zaman nabi-nabi terdahulu hingga umat Nabi Muhammad, setiap orang yang mengaku beriman pasti akan diuji.

Secara umum, ayat ini mengajarkan bahwa keimanan memerlukan pembuktian melalui kesabaran dan keteguhan menghadapi berbagai cobaan hidup. Ini adalah fondasi penting dalam memahami konsep iman dalam Islam, bahwa iman itu bukan hanya keyakinan di hati, tetapi juga amal perbuatan yang dibuktikan melalui ujian.

Kesuksesan, keberhasilan, dan tercapainya mimpi seringkali datang bersama godaan. Godaan untuk sombong, merasa lebih baik dari yang lain, atau lupa akan asal muasal nikmat yang diterima.

Pentingnya Rendah Hati (Tawadhu’) :

Inilah mengapa rendah hati (tawadhu’) menjadi pilar utama dalam menghadapi tercapainya mimpi. Rendah hati bukan berarti merendahkan diri atau tidak menghargai potensi diri. Sebaliknya, tawadhu’ adalah kesadaran penuh bahwa segala pencapaian, kecerdasan, kekuatan, dan kesuksesan yang kita miliki adalah semata-mata karena karunia dan izin dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tanpa kehendak-Nya, tak ada satu pun impian yang akan terwujud.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

“مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.”

(رواه مسلم)

Artinya :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sedekah itu tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidak menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan Singkat Hadist :

Hadist ini adalah salah satu mutiara hikmah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mengajarkan tiga prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim :

1. Keutamaan Sedekah : Sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan keberkahannya akan melipatgandakan rezeki dan membersihkannya.

2. Keutamaan Pemaaf: Memberi maaf kepada orang lain akan meningkatkan kemuliaan dan kehormatan seseorang di sisi Allah dan manusia.

3. Keutamaan Tawadhu (Merendahkan Diri) : Inilah poin utama yang Anda tanyakan. Seseorang yang merendahkan diri semata-mata karena Allah, yaitu tidak sombong, tidak angkuh, dan selalu merasa kecil di hadapan kebesaran Allah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat derajatnya. Pengangkatan derajat ini bisa berupa kemuliaan di dunia (dihormati dan dicintai manusia) dan di akhirat (mendapatkan kedudukan tinggi di surga). Ini adalah kebalikan dari kesombongan, di mana orang yang sombong justru akan direndahkan.

Mengapa Demikian ? Karena Dengan Rendah Hati, Kita Akan Senantiasa :

1. Bersyukur Kepada Allah : Menyadari bahwa semua adalah titipan, membuat kita lebih giat bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang benar.

2. Menghargai Proses Dan Orang Lain : Rendah hati membuat kita tidak lupa akan perjuangan, bantuan orang lain, dan rintangan yang telah dilalui. Kita akan menghargai setiap langkah dan setiap individu yang terlibat.

3. Terhindar Dari Kesombongan : Kesombongan (ujub dan takabbur) adalah penyakit hati yang sangat dibenci Allah. Ia bisa menghancurkan segala amal kebaikan dan menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Dengan rendah hati, kita terlindungi dari sifat tercela ini.

4. Terus Belajar Dan Berkembang : Orang yang rendah hati akan selalu merasa bahwa ia masih banyak kekurangan dan perlu terus belajar. Ini mendorongnya untuk senantiasa meningkatkan diri dan tidak cepat puas.

5. Menjadi Teladan Yang Baik : Pribadi yang rendah hati akan dihormati dan disenangi banyak orang, menjadikannya teladan yang baik bagi lingkungan sekitarnya.

Sebuah Janji Suci :

Maka, ketika kalimat tersebut diucapkan, “Berjanjilah untuk tetap rendah hati,” itu adalah sebuah janji suci kepada diri sendiri dan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Janji untuk tidak melupakan hakikat pencapaian, bahwa itu adalah anugerah Ilahi. Janji untuk tidak membiarkan ego menguasai diri. Janji untuk senantiasa menempatkan Allah sebagai tujuan utama, bukan sekadar tangga menuju kesuksesan duniawi.

Ketika mimpi itu terwujud, gunakanlah kesuksesan itu untuk kebaikan umat, untuk menebarkan manfaat, dan untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi. Ingatlah selalu bahwa puncak tertinggi dari segala pencapaian adalah ketika kita bisa kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur, dalam keadaan rendah hati, mengakui segala karunia-Nya.

Penutup :

Mimpi adalah karunia, namun kerendahan hati adalah ujian. Ketika mimpi tercapai, jangan biarkan keberhasilan menjadi tirai yang menutupi rasa syukur dan akhlak. Sebab, mimpi sejati dalam Islam bukan hanya tercapainya cita-cita dunia, melainkan diraihnya ridha Allah melalui akhlak yang luhur.

Mari Kita Tanamkan Dalam Hati :

“Jika Allah izinkan aku menggapai mimpiku, aku akan tetap rendah hati, karena aku tahu semua ini hanya karena-Nya.”

📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

1. Sumber : https://web.facebook.com/photo?fbid=122187448634283947&set=pcb.648041878394512

2. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-029-002/

3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-081-029/

Editor   : MUH. IKHSAN AM 

INSPIRATOR-RAKYAT.COM )

PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )