Ilmu Dahsyat Bayi Yang Di Lupakan Orang Dewasa. Padahal Cuma Bisa Nangis Doang, Tapi Rezekinya Tercukupi Yaitu Ilmu Total Bergantung Pada Allah
INSPIRATOR-RAKYAT-Bayangin… Bayi aja bisa dapet semua yang dia butuhin, cuma modal nangis. Gak bisa kerja. Gak bisa ngomong. Gak ngerti strategi. Tapi hidupnya dicukupi, dijaga, dan disayangin.
Kenapa ? Karena dia total bergantung sama Allah. Bukan sama orang tuanya. Bukan sama manusia. Tapi sama Yang Maha Kuasa.
Bayi itu nangis… Allah kirimkan pertolongan lewat orang tuanya. Dan kalau belum dikabulkan? Dia gak nyerah. Dia nangis lebih keras.
Sementara kita ? Sudah dewasa, tapi malah lupa cara bergantung sama Allah. Baru inget saat kepepet. Itu pun kadang masih setengah hati.
Mungkin, udah saatnya kita belajar lagi… Ilmu dasar yang bikin bayi selalu cukup : total bergantung hanya kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat bayi sebagai makhluk lemah tak berdaya, belum bisa berbicara, berjalan, atau mencari makan sendiri. Mereka hanya bisa menangis. Namun, justru dalam ketidakmampuannya itu, bayi tetap mendapatkan rezeki yang cukup, kasih sayang yang melimpah, dan perhatian penuh dari sekelilingnya.
Fenomena ini bukan sekadar keajaiban biologis atau tanggung jawab sosial, melainkan cerminan dari sebuah ilmu dahsyat yang kerap terlupakan oleh orang dewasa: ilmu total bergantung pada Allah (tawakkal).
1. Ketergantungan Tota l: Fitrah Yang Lurus
Dalam Islam, tawakkal adalah salah satu ajaran paling mendalam dan mendasar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ٢٣
Berkatalah dua orang di antara mereka yang takut (kepada Allah) yang telah diberi nikmat oleh Allah kepada keduanya, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”
(QS. Al-Maidah Ayat : 23)
Bayi adalah contoh makhluk yang secara fitrah sepenuhnya bertawakkal. Ia tidak memiliki perhitungan duniawi, tidak membuat rencana cadangan, bahkan tidak tahu siapa yang akan memberinya makan hari ini. Tapi justru dalam kondisi seperti itu, Allah menggerakkan hati orang-orang dewasa untuk mengasuh, menyusui, menjaga, bahkan menangis bersamanya.
Bayi tidak berdoa dengan lisan, tapi tangisnya adalah doanya, dan Allah jawab itu dengan kasih sayang dan pemeliharaan dari sekitarnya.
2. Rezeki Bay i: Bukti Nyata Kuasa Allah
Sering kita mendengar anggapan: “Jangan punya anak dulu, belum cukup rezeki.” Tapi uniknya, hampir semua bayi lahir dengan jalan rezekinya masing-masing. Ada yang ibunya tiba-tiba dapat pekerjaan, ayahnya mendapat promosi, atau keluarga diberi kelapangan hati dan materi oleh Allah. Inilah janji Allah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an :
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَٰقٖۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِيَّاكُمۡۚ إِنَّ قَتْلَهُمۡ كَانَ خِطۡـٔٗا كَبِيرٗا ٣١
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Sungguh, membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
(QS. Al-Isra’ Ayat : 31)
Bayi, meski belum punya pekerjaan, justru menunjukkan bahwa rezeki adalah urusan Allah, bukan hasil murni dari usaha manusia.
3. Pelajaran Besar Untuk Orang Dewasa :
Sayangnya, semakin dewasa, manusia justru semakin lupa dengan “ilmu bayi” ini. Kita mulai mengandalkan logika semata, menyandarkan hidup pada gaji, koneksi, bahkan lupa bahwa Allah-lah yang Maha Menjamin. Kita takut kehilangan pekerjaan, takut gagal usaha, takut miskin. Semua ketakutan itu muncul karena hilangnya keyakinan penuh pada Allah.
Padahal, jika kita kembali pada fitrah bayi yang tidak bisa apa-apa tapi diberi segalanya kita akan menyadari bahwa ketenangan hidup bukan berasal dari kekuatan kita, tapi dari kebergantungan total pada Allah.
4. Bukan Pasrah Buta, Tapi Pasrah Dengan Ikhtiar :
Perlu digarisbawahi, tawakkal bukan berarti malas atau menunggu tanpa usaha. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk tetap berusaha dan merencanakan, tapi tidak pernah mencabut kebergantungan kita dari Allah. Rasulullah bersabda :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ نَوْفَلِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الدِّيلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Husain dari Naufal bin Mu’awiyah Ad-Dili ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: pagi hari keluar dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”
Hadits ini diriwayatkan oleh : Imam Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi (kitab Zuhd, bab 23)
Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Bab Tawakkul ‘ala Allah (Nomor Hadis: 2344). Imam Tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis hasan gharib (baik lagi gharib, yaitu sanadnya hanya melalui satu jalur periwayatan pada sebagian tingkatan).
Bayi mengajarkan kita bahwa tugas kita bukan menjamin hasil, tapi menyerahkan hasil kepada Yang Maha Kuasa setelah ikhtiar.
Ilmu Dahsyat Bayi Yang Di Llupakan Orang Dewasa : Hakikat Tawakal Dalam Islam
Kita seringkali terpukau dengan kecerdasan, kekuatan fisik, atau kemampuan duniawi yang dimiliki orang dewasa. Namun, pernahkah kita merenungkan tentang “ilmu” luar biasa yang dimiliki seorang bayi? Makhluk kecil yang tampak begitu lemah dan hanya mampu berkomunikasi melalui tangisan, namun rezekinya selalu tercukupi. Dari mana datangnya makanan, pakaian, dan kasih sayang yang ia terima setiap hari? Jawabannya terletak pada sebuah konsep mendasar dalam Islam: tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Bayi, dalam ketidakberdayaannya, secara naluriah sepenuhnya bergantung kepada Sang Khalik. Ia tidak memiliki daya dan upaya untuk mencari rezekinya sendiri. Ia hanya bisa menangis sebagai bentuk komunikasi atas kebutuhannya. Namun, Allah dengan segala kasih sayang-Nya, menggerakkan hati orang-orang di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan bayi tersebut. Inilah manifestasi nyata dari firman Allah dalam Al-Qur’an :
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ ٦
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Hud Ayat : 6)
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya, termasuk bayi yang baru lahir. Bagaimana rezeki itu datang? Melalui berbagai jalan yang mungkin tidak pernah kita duga. Allah menanamkan kasih sayang dalam hati orang tua, keluarga, dan bahkan orang lain untuk merawat dan memenuhi kebutuhan si kecil.
Seiring bertambahnya usia dan kemampuan, seringkali kita sebagai orang dewasa mulai melupakan “ilmu” tawakal yang begitu murni dimiliki seorang bayi. Kita cenderung lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri, kepintaran, koneksi, dan berbagai usaha duniawi lainnya. Padahal, semua itu hanyalah wasilah atau perantara. Sumber rezeki yang sebenarnya tetaplah dari Allah Azza wa Jalla.
Tawakal yang benar bukanlah berarti kita hanya berdiam diri tanpa berusaha. Islam mengajarkan kita untuk tetap berikhtiar semaksimal mungkin dalam mencari rezeki yang halal. Namun, setelah segala usaha dilakukan, hati kita harus tetap bersandar sepenuhnya kepada Allah. Kita yakin bahwa hasil akhir dari segala upaya kita berada di tangan-Nya. Jika kita mendapatkan apa yang kita harapkan, kita bersyukur. Jika kita tidak mendapatkannya, kita tetap berhusnudzon (berprasangka baik) kepada Allah bahwa ada hikmah di balik segala ketetapan-Nya.
Mengapa Kita Perlu Belajar Kembali Dari Bayi ? :
1. Menghilangkan Kekhawatiran Berlebihan : Ketika kita sepenuhnya bertawakal kepada Allah, kekhawatiran berlebihan akan masa depan dan rezeki akan berkurang. Kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya.
2. Menumbuhkan Ketenangan Hati : Ketergantungan total kepada Allah akan memberikan ketenangan batin yang mendalam. Kita tidak lagi merasa terbebani oleh usaha sendiri, melainkan menyerahkan segala urusan kepada Yang Maha Mengatur.
3. Meningkatkan Keimanan: Tawakal adalah salah satu cabang keimanan. Dengan bertawakal, kita semakin menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.
4. Mendorong Semangat Ikhtiar yang Lebih Baik : Ketika kita yakin bahwa rezeki datang dari Allah, kita akan berusaha lebih sungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam mencari nafkah yang halal, karena kita tahu bahwa usaha kita adalah bagian dari ibadah.
Belajar dari “ilmu” bayi bukan berarti kita harus kembali menjadi tidak berdaya. Namun, esensinya adalah bagaimana kita menghidupkan kembali jiwa tawakal yang murni dalam hati kita. Bahwa sebesar apapun usaha kita, sandaran utama kita tetaplah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan begitu, rezeki yang kita peroleh akan terasa lebih berkah dan hati kita pun akan senantiasa tenang dalam menjalani kehidupan ini.
Penutup : Kembali Belajar Dari Bayi
Ilmu bayi bukanlah ilmu yang rendah justru sangat tinggi dalam pandangan tauhid. Bayi menjadi guru yang diam namun mendalam bagi kita: untuk kembali belajar totalitas bergantung pada Allah, melepaskan diri dari kecemasan duniawi, dan yakin bahwa selama kita dekat dengan Allah, segala sesuatu akan cukup dan tercukupi.
2. Sumber : Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Bab Tawakkul ‘ala Allah (Nomor Hadis: 2344). Imam Tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis hasan gharib (baik lagi gharib, yaitu sanadnya hanya melalui satu jalur periwayatan pada sebagian tingkatan).
3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-017-031/
4. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-011-006/
Editor : Muh Ikhsan Am
( INSPIRATOR-RAKYAT.COM )
( PERJUANG ASPIRASI RAKYAT )





