Bahaya Cinta Buta Belajar Fikih Parenting Dari Film Mahabharata Sebuah Renungan Islam
Bahaya Cinta Buta Belajar Fikih Parenting Dari Film Mahabharata Sebuah Renungan Islam
📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
Oleh : MUH IKHSAN AM
Inspirator-Rakyat.com-Dalam dunia parenting, tidak ada satu pun metode yang sempurna tetapi ada prinsip-prinsip dasar yang dituntun oleh wahyu dan akal. Dalam konteks ini, kisah-kisah epik seperti Mahabharata meskipun berasal dari tradisi Hindu sering memuat pelajaran kemanusiaan yang dapat kita kaji secara kritis melalui lensa fikih Islam, khususnya dalam hal pendidikan anak dan bahaya cinta buta orang tua kepada anak.
Fenomena cinta buta seringkali menjadi penyakit batin yang tak disadari, apalagi jika dibalut dalih kasih sayang orang tua. Cinta semacam ini berpotensi merusak masa depan anak, merusak keadilan, dan mencederai amanah pendidikan.
Cinta adalah anugerah Ilahi yang membawa keindahan dalam kehidupan. Namun, ketika cinta menjadi “buta” membutakan mata hati dan akal sehat ia dapat menjelikkan segala hal, bahkan membawa kehancuran. Dalam ajaran Islam, cinta harus berlandaskan ketaatan kepada Allah SWT dan tidak boleh mengaburkan prinsip-prinsip syariat. Untuk memahami lebih dalam bahaya cinta buta, kita dapat merenungi pelajaran dari sebuah kisah epik yang kaya akan nilai moral, meskipun berasal dari peradaban yang berbeda Mahabharata.
Mahabharata, sebuah epos kuno dari India, menyajikan kompleksitas hubungan antarmanusia, intrik kekuasaan, dan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang dibuat. Meskipun bukan dari tradisi Islam, banyak hikmah di dalamnya yang relevan dengan konsep fikih parenting dan bahaya cinta buta dalam konteks kehidupan Muslim.
Analogi Kasus Karna Dan Kunti Dalam Mahabharata :
Dalam film Mahabharata, sosok Karna adalah anak kandung Kunti yang lahir sebelum pernikahannya. Karena rasa malu, ia dibuang ke sungai dan kemudian dibesarkan oleh orang tua angkat dari kalangan rakyat jelata. Karna tumbuh sebagai kesatria tangguh, tetapi karena tidak diakui oleh ibunya, ia memihak Duryodhana, musuh utama Pandawa (anak-anak sah Kunti).
Ironisnya, saat perang besar Bharatayudha akan dimulai, Kunti datang memohon pada Karna agar tidak membunuh saudara-saudaranya. Permintaan itu datang bukan karena keadilan, melainkan karena rasa bersalah dan kasih sayang buta sebagai ibu yang baru muncul ketika nyawa anak-anaknya terancam.
Cinta buta ini terlambat dan tidak proporsional. Ini menjadi pelajaran besar dalam parenting: kasih sayang harus dibarengi dengan keberanian mengambil tanggung jawab dan menegakkan keadilan.
Bahaya Cinta Buta Dalam Perspektif Fikih Islam :
Dalam Islam, pendidikan anak (tarbiyah al-abnā’) adalah amanah yang harus dijalankan dengan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan. Ulama seperti Imam al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menekankan pentingnya ta’dib (pendisiplinan) dan rahmah (kasih sayang) sebagai dua sayap utama parenting Islami.
Berikut Beberapa Bentuk Cinta Buta Yang Berbahaya Menurut Perspektif Islam :
1. Melindungi Anak Dari Konsekuensi Kesalahan :
Nabi Ya’qub Dalam Al-Qur’an Tidak Membela Anak-Anaknya Saat Mereka Berbohong Tentang Hilangnya Yusuf. Ia Menunjukkan Kesedihan, Tetapi Tetap Menyerahkan Urusan Mereka Kepada Allah. Dalam QS. Yusuf Ayat 18 Ia Berkata :
وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١٨
“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (Yusuf) dengan darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, ‘Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka kesabaran yang indah itu lebih baik (bagiku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'”
(QS. Yusuf Ayat 18)
Tafsir Lengkap Ayat :
Ayat ini menceritakan kelanjutan dari plot saudara-saudara Yusuf untuk menyingkirkan adiknya. Setelah melemparkan Yusuf ke dalam sumur, mereka kembali ke ayah mereka, Nabi Ya’qub, dengan membawa bukti palsu untuk meyakinkan beliau bahwa Yusuf telah diterkam serigala.
1. “وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ” (Dan Mereka Datang Membawa Baju Gamisnya (Yusuf) Dengan Darah Palsu.) :
• Konteks : Saudara-saudara Yusuf pulang ke rumah pada malam hari, menangis dan berlagak sedih. Mereka membawa baju gamis Yusuf yang telah mereka lumuri dengan darah palsu, kemungkinan darah kambing atau binatang lain, sebagai “bukti” bahwa Yusuf telah dimakan serigala.
• Makna : Frasa “بِدَمٍ كَذِبٍ” (darah palsu) secara tegas menunjukkan bahwa darah yang mereka tunjukkan adalah rekayasa, bukan darah asli Yusuf. Ini menyoroti penipuan dan kebohongan yang mereka lakukan terhadap ayah mereka. Ketiadaan robekan atau bekas gigitan pada gamis tersebut (sesuai ayat sebelumnya) seharusnya menjadi petunjuk bagi Ya’qub bahwa ada sesuatu yang tidak beres, namun kesedihan mereka dan drama yang mereka ciptakan membuatnya sulit bagi Ya’qub untuk langsung menolak.
2. “قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا” (Dia (Ya’qub) Berkata, ‘Sebenarnya Hanya Dirimu Sendirilah Yang Memandang Baik Urusan Yang Buruk Itu;’) :
• Reaksi Nabi Ya’qub : Meskipun saudara-saudara Yusuf berusaha meyakinkannya, Nabi Ya’qub dengan hikmah dan firasat kenabiannya tidak langsung percaya pada cerita mereka. Beliau merasakan adanya kebohongan.
• Makna “سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ” : Frasa ini berarti “nafsu atau dirimu sendiri telah membujuk/menjadikan indah bagimu suatu perkara.” Ini menunjukkan bahwa Ya’qub memahami bahwa perbuatan buruk yang mereka lakukan (menyingkirkan Yusuf) telah dihiasi oleh nafsu mereka sendiri sehingga terlihat benar atau baik di mata mereka. Beliau menyadari adanya niat jahat dan tipuan di balik cerita yang mereka sampaikan. Beliau tidak menuduh mereka secara langsung, tetapi mengisyaratkan bahwa perbuatan mereka adalah hasil dari bujukan hawa nafsu.
3. “فَصَبْرٌ جَمِيلٌ” (Maka Kesabaran Yang Indah Itu Lebih Baik (Bagiku) :
• Respon Nabi Ya’qub : Ini adalah puncak dari reaksi Nabi Ya’qub. Meskipun hatinya hancur dan beliau menyadari kebohongan anak-anaknya, beliau memilih untuk bersabar.
• Makna “صَبْرٌ جَمِيلٌ” : Ini adalah istilah yang sangat penting dalam Al-Qur’an. Sabar جميل (sabar yang indah) berarti kesabaran yang dilakukan tanpa keluh kesah, tanpa mengeluh kepada manusia, dan tanpa menunjukkan kegelisahan atau keputusasaan. Ini adalah kesabaran yang disertai dengan keyakinan penuh kepada Allah, menerima takdir-Nya, dan berharap pertolongan hanya dari-Nya. Nabi Ya’qub menunjukkan ketabahan yang luar biasa, tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan, dan tetap menjaga husnuzan (berprasangka baik) kepada Allah.
4. “وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ” (Dan Allah Sajalah Yang Di Mohon Pertolongan-Nya Terhadap Apa Yang Kamu Ceritakan.) :
• Penyerahan Diri Kepada Allah : Ini menunjukkan puncak tawakal (penyerahan diri) Nabi Ya’qub kepada Allah. Beliau tidak mencari pertolongan atau pembalasan dari manusia, melainkan langsung memohon pertolongan kepada Allah.
• Makna “الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ” : Ini Berarti “Yang Di Mohon Pertolongan-Nya Atas Apa Yang Kalian Sifatkan/Ceritakan.” Ini menegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu menyingkap kebenaran, menolong hamba-Nya yang terzalimi, dan memberikan jalan keluar dari kesulitan. Ini adalah deklarasi keyakinan penuh Ya’qub bahwa Allah mengetahui segala rahasia dan akan memberikan keadilan pada waktunya.
Pelajaran Dan Hikmah Dari Ayat Ini :
• Ujian Bagi Para Nabi : Ayat ini menunjukkan salah satu bentuk ujian berat yang dihadapi oleh para nabi, yaitu diuji melalui keluarga dekatnya sendiri.
• Kesabaran Dalam Menghadapi Tipuan : Nabi Ya’qub mengajarkan kita tentang pentingnya sabar جميل dalam menghadapi kebohongan dan pengkhianatan, serta tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
• Kepekaan Firasat : Meskipun tanpa bukti fisik yang jelas, firasat Ya’qub sebagai seorang nabi membuatnya menyadari adanya tipuan.
• Tawakal Kepada Allah : Ayat ini menekankan bahwa dalam menghadapi musibah dan kesulitan, kita harus selalu bersandar dan memohon pertolongan hanya kepada Allah.
• Konsekuensi Dosa: Perbuatan saudara-saudara Yusuf menunjukkan bagaimana hawa nafsu dapat membutakan seseorang untuk melakukan perbuatan jahat dan kebohongan, yang pada akhirnya akan membawa penyesalan.
Ini Adalah Bentuk Parenting Proporsional Tidak Menutup-Nutupi Kesalahan Anak :
2. Mengabaikan Keadilan Karena Ikatan Darah :
Dalam Hadist Shahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda :
حدثنا عبد العزيز بن عبد الله الأويسي قال حدثنا سليمان بن بلال عن ثور بن زيد عن أبي الغيث عن أبي هريرة أن قريشا أهمهم شأن المرأة المخزومية التي سرقت فقالوا من يكلم فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا ومن يجترئ عليه إلا أسامة بن زيد حب رسول الله صلى الله عليه وسلم فكلمه أسامة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أتشفع في حد من حدود الله ثم قام فاختطب فقال يا أيها الناس إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها ثم أمر بتلك المرأة فقطعت يدها
رواه أبو هريرة رضي الله عنه
Artinya :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa orang-orang Quraisy sangat prihatin dengan kasus seorang wanita dari suku Makhzum yang mencuri. Mereka berkata, “Siapa yang akan berbicara kepada Rasulullah ﷺ tentang masalah ini?” Mereka menjawab, “Tidak ada yang berani melakukannya kecuali Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah ﷺ.” Maka Usamah pun berbicara kepada beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah engkau meminta keringanan dalam suatu hukuman dari hukum-hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri dan berkhotbah seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa jika orang yang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Dan jika orang yang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Kemudian beliau memerintahkan agar tangan wanita tersebut dipotong, maka dipotonglah tangannya.
(Diriwayatkan Oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)
Latar Belakang Dan Pelajaran Dari Hadist Ini :
Hadist Ini Memiliki Konteks Historis Dan Pelajaran Yang Sangat Mendalam :
1. Kasus Pencurian Wanita Makhzumiyah : Kisah ini bermula ketika seorang wanita dari kabilah Makhzum, salah satu kabilah terpandang di Quraisy, tertangkap basah mencuri. Kasus ini menimbulkan kegelisahan di kalangan kaum Quraisy karena mereka khawatir hukuman potong tangan akan menimpa wanita dari kalangan bangsawan mereka.
2. Peran Usamah Bin Zaid : Mereka mencari seseorang yang memiliki kedekatan dengan Rasulullah ﷺ untuk meminta keringanan hukuman bagi wanita tersebut. Usamah bin Zaid, yang sangat dicintai oleh Rasulullah, diutus untuk berbicara dengan beliau.
3. Ketegasan Rasulullah ﷺ Dalam Penegakan Hukum : Ketika Usamah menyampaikan permohonan keringanan, Rasulullah ﷺ menunjukkan kemarahan dan ketegasan. Beliau mengingatkan Usamah bahwa tidak ada tawar-menawar dalam penegakan hukum Allah. Ini menunjukkan bahwa hukum Islam harus ditegakkan tanpa pandang bulu, tanpa membedakan status sosial atau kekerabatan.
4. Khotbah Penting : Setelah itu, Rasulullah ﷺ menyampaikan khotbah kepada kaum Muslimin. Dalam khotbah tersebut, beliau menjelaskan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan oleh ketidakadilan dalam penegakan hukum mereka melindungi orang yang kuat dan menghukum orang yang lemah.
5. Pernyataan Mengenai Fatimah : Puncak dari khotbah beliau adalah pernyataan yang sangat kuat “Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Pernyataan ini bukan berarti Fatimah pernah mencuri atau akan mencuri (Fatimah adalah sosok yang suci dan mulia), melainkan sebuah hiperbola yang sangat efektif untuk menegaskan prinsip keadilan mutlak dalam Islam. Ini adalah penekanan bahwa tidak ada seorang pun, bahkan anak kesayangan Nabi sekalipun, yang kebal dari hukum Allah.
Implikasi Dan Hikmah :
Hadist Ini Mengajarkan Beberapa Pelajaran Penting :
• Prinsip Kesetaraan Di Hadapan Hukum : Islam menegakkan prinsip bahwa semua manusia setara di hadapan hukum Allah, tanpa memandang jabatan, kekayaan, keturunan, atau status sosial.
• Pentingnya Keadilan : Keadilan adalah fondasi utama bagi tegaknya masyarakat yang stabil dan sejahtera. Ketidakadilan, terutama dalam penegakan hukum, akan membawa kehancuran.
• Kepemimpinan Yang Adil : Rasulullah ﷺ memberikan teladan kepemimpinan yang adil. Beliau tidak ragu untuk menegakkan kebenaran dan hukum meskipun itu melibatkan orang terdekat atau orang yang memiliki status tinggi.
• Perlindungan Terhadap Hukum Allah : Hadist ini menekankan pentingnya menjaga dan melindungi hukum-hukum Allah dari intervensi atau modifikasi manusia demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Rasulullah menolak cinta buta. Kejujuran terhadap prinsip syariah lebih utama daripada fanatisme terhadap keluarga.
Apa Itu Hiperbola Dalam Konteks Bahasa ? :
Dalam bahasa, hiperbola adalah majas atau gaya bahasa yang digunakan untuk melebih-lebihkan sesuatu secara berlebihan, dengan tujuan untuk menekankan makna atau emosi tertentu. Hiperbola tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, melainkan untuk memberikan efek dramatis atau impresif dalam komunikasi.
Contoh Kalimat Hiperbola :
1. “Aku Sudah Menunggumu Seribu Tahun!” :
Tentu saja ini tidak mungkin secara harfiah. Ini cara untuk menunjukkan bahwa seseorang merasa sudah menunggu sangat lama.
2. “Dia Menangis Darah Karena Kecewa.” :
Ini menggambarkan kesedihan yang sangat mendalam, bukan benar-benar menangis darah.
3. “Bukunya Laris Manis Sampai Seluruh Dunia Membacanya.” :
Maksudnya buku tersebut sangat populer, meskipun tidak benar-benar dibaca oleh semua orang di dunia.
Tujuan Penggunaan Hiperbola :
• Menarik perhatian pendengar atau pembaca.
• Meningkatkan ekspresi emosional dalam komunikasi.
• Memberikan kesan mendalam atau dramatis.
Kesimpulan :
Hiperbola dalam bahasa adalah ungkapan yang melebih-lebihkan realitas untuk tujuan retoris atau artistik, bukan untuk diartikan secara harfiah.
3. Menjadikan Anak Sebagai ‘Proyek Diri’ :
Dalam banyak keluarga, terutama dari kelas menengah ke atas, cinta buta sering berwujud dalam ambisi pribadi orang tua yang dipaksakan kepada anak. Anak dijadikan simbol prestise, bukan amanah. Ini menyimpang dari maqashid tarbiyah dalam Islam: membentuk insan bertakwa, bukan trofi sosial.
Refleksi Belajar Dari Kegagalan Kunti :
Kegagalan Kunti bukan karena ia tidak mencintai anak-anaknya, tetapi karena ia tidak berani mengakui dan mendidik Karna sejak awal. Ketika cinta hanya hadir di akhir, bukan sejak tanggung jawab awal dijalankan, maka cinta itu tak menyelamatkan.
Dalam Islam, Cinta Kepada Anak Bukan Sekadar Perasaan, Tetapi Wujudnya Adalah Dalam Bentuk :
• Menanamkan tauhid sejak dini
• Menegakkan keadilan di antara anak
• Mendoakan dan mengarahkan, bukan memanjakan
Cinta Buta Dan Dampaknya Dalam Keluarga :
Dalam Mahabharata, kita melihat bagaimana cinta buta sering kali menjadi pemicu konflik dan kehancuran. Salah satu contoh paling menonjol adalah sosok Dhritarashtra, raja Hastinapura yang buta secara fisik, namun juga buta secara batiniah karena cinta berlebihan pada putra-putranya, para Kaurawa, khususnya Duryodhana. Cinta buta ini membuatnya :
• Mengabaikan Keadilan : Dhritarashtra sering kali mengabaikan tuntutan keadilan dari Pandawa, keponakan-keponakannya, demi melindungi dan memanjakan putranya yang tamak. Dalam Islam, keadilan adalah pilar utama yang harus ditegakkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam keluarga. Orang tua bertanggung jawab untuk berlaku adil terhadap semua anak-anaknya.
• Membiarkan Kezaliman : Ia membiarkan Duryodhana melakukan berbagai tindakan keji terhadap Pandawa, termasuk pengusiran dan penipuan. Ini berujung pada perang Bharatayuddha yang memusnahkan banyak nyawa. Dalam fikih parenting, orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak agar memiliki akhlak mulia dan mencegah mereka dari perbuatan dosa dan zalim. Membiarkan anak dalam kemaksiatan adalah bentuk kelalaian yang berdampak buruk di dunia dan akhirat.
• Merusak Hubungan Kekeluargaan : Cinta butanya menciptakan jurang pemisah antara Pandawa dan Kaurawa, padahal mereka adalah kerabat dekat. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutuskannya adalah dosa besar. Cinta buta yang mendahulukan satu pihak dan menzalimi pihak lain dapat menghancurkan ikatan kekeluargaan yang seharusnya dijaga.
Pelajaran Fikih Parenting Dari Mahabharata Dalam Kacamata Islam :
Dari Kisah Dhritarashtra Dan Konsekuensi Cinta Butanya, Kita Dapat Menarik Beberapa Pelajaran Penting Dalam Konteks Fikih Parenting :
1. Cinta Yang Berlandaskan Iman Dan Keadilan : Orang tua mencintai anak adalah fitrah. Namun, cinta ini harus dilandasi oleh iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Cinta yang benar akan membimbing anak menuju kebaikan dan menjauhkannya dari kemungkaran. Ia tidak akan menjadikan orang tua buta terhadap kesalahan anak dan justru mendorong mereka untuk mendidik anak dengan prinsip keadilan dan kebenaran, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ١٣٥
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.
(QS. An-Nisa Ayat : 135)
Tafsir Lengkap Ayat :
Ayat 135 dari Surah An-Nisa ini merupakan salah satu ayat fundamental dalam Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keadilan mutlak dalam setiap aspek kehidupan seorang Muslim. Ayat ini bukan hanya sekadar anjuran, tetapi perintah tegas yang ditujukan kepada seluruh orang beriman. Mari kita bedah tafsirnya :
1. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ” (Wahai Orang-Orang Yang Beriman! Jadilah Kamu Penegak Keadilan) :
• “Wahai Orang-Orang Yang Beriman” : Seruan ini secara spesifik ditujukan kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa menegakkan keadilan adalah bagian integral dari keimanan itu sendiri.
• “Jadilah Kamu Penegak Keadilan” : Kata “قَوَّامِينَ” (qawwamina) berasal dari akar kata “قام” (qama) yang berarti berdiri atau tegak. Bentuk qawwam (superlatif) menunjukkan penekanan dan keberlangsungan. Artinya, seorang Muslim harus senantiasa dan secara konsisten berdiri tegak untuk keadilan. Bukan hanya sesekali atau ketika ada kesempatan, tetapi menjadi karakter yang melekat. “الْقِسْطِ” (al-qist) berarti keadilan yang adil dan merata, tanpa berat sebelah, objektif, dan proporsional. Ini mencakup keadilan dalam hukum, keputusan, persaksian, dan perlakuan.
2. “شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ” (Menjadi Saksi Karena Allah, Walaupun Terhadap Dirimu Sendiri Atau Ibu Bapak Dan Kaum Kerabatmu) :
• “Menjadi Saksi Karena Allah” : Ayat ini menekankan bahwa tujuan kesaksian bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan semata-mata karena Allah. Ini berarti kesaksian harus didasarkan pada kebenaran dan kejujuran, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
• “Walaupun Terhadap Dirimu Sendiri” : Ini adalah puncak dari tuntutan keadilan. Seseorang harus siap bersaksi jujur bahkan jika kesaksian itu merugikan dirinya sendiri. Ini menuntut integritas moral yang sangat tinggi, mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi demi kebenaran.
• “Atau Ibu Bapak Dan Kaum Kerabatmu” : Setelah diri sendiri, disebutkan orang tua dan kerabat terdekat. Ini karena secara naluri, manusia cenderung melindungi dan membela orang-orang terdekatnya. Namun, Islam menuntut agar cinta dan ikatan kekeluargaan tidak boleh menghalangi penegakan keadilan. Jika orang tua atau kerabat bersalah, kebenaran harus tetap diungkapkan.
3. “إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا” (Jika Dia (Yang Terdakwa Atau Tersangkut Masalah) Kaya Ataupun Miskin, Maka Allah Lebih Tahu Kemaslahatannya) :
• “Jika Dia Kaya Atau Pun Miskin” : Ayat ini menegaskan bahwa status sosial dan ekonomi seseorang tidak boleh menjadi faktor dalam penegakan keadilan. Keadilan harus berlaku sama bagi semua, tanpa diskriminasi. Seringkali, orang kaya cenderung mendapatkan perlakuan istimewa, atau orang miskin mudah ditindas. Ayat ini menghapus segala bentuk bias tersebut.
• “Maka Allah Lebih Tahu Kemaslahatannya” : Frasa ini memberikan ketenangan dan kepercayaan diri bagi penegak keadilan. Terkadang, kita mungkin khawatir bahwa kesaksian jujur terhadap orang kaya akan merugikan kita, atau kesaksian terhadap orang miskin akan menambah penderitaan mereka. Namun, Allah menegaskan bahwa Dia lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Tugas kita hanya menegakkan keadilan, dan hasilnya diserahkan kepada Allah. Allah akan menjamin kebaikan di balik penegakan keadilan yang tulus.
4. “فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا” (Maka Janganlah Kamu Mengikuti Hawa Nafsu Sehingga Kamu Menyimpang (Dari Kebenaran) :
• “Maka Janganlah Kamu Mengikuti Hawa Nafsu” : Ini adalah peringatan keras terhadap bahaya hawa nafsu dalam mengambil keputusan atau bersaksi. Hawa nafsu bisa berupa keinginan untuk menyenangkan seseorang, rasa takut, kebencian, iri hati, atau mencari keuntungan pribadi. Semua ini dapat mengaburkan pandangan dan menyebabkan penyimpangan dari keadilan.
• “Sehingga Kamu Menyimpang (Dari Kebenaran)” : Mengikuti hawa nafsu pasti akan membawa kepada penyimpangan dari jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran dan keadilan. Keadilan memerlukan objektivitas dan kejujuran, yang seringkali bertentangan dengan dorongan hawa nafsu.
5. “وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا” (Dan Jika Kamu Memutarbalikkan (Kata-Kata) Atau Enggan Menjadi Saksi, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Apa Yang Kamu Kerjakan.) :
• “Dan Jika Kamu Memutarbalikkan (Kata-Kata)” : Kata “تَلْوُوا” (talwu) berasal dari “لوى” (lawa) yang berarti membelokkan, memutar, atau menyimpangkan. Ini merujuk pada upaya memanipulasi fakta, memalsukan kesaksian, atau membelokkan kebenaran dengan kata-kata.
• “Atau Enggan Menjadi Saksi” : Ini adalah bentuk lain dari ketidakadilan, yaitu menahan kesaksian yang benar padahal mengetahui fakta. Diamnya seseorang yang tahu kebenaran saat keadilan dituntut adalah sebuah bentuk dosa.
• “Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Apa Yang Kamu Kerjakan” : Ini adalah peringatan sekaligus ancaman. Meskipun manusia bisa menyembunyikan kebohongan atau keengganannya dari sesama manusia, Allah Maha Mengetahui segala niat dan perbuatan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Implikasinya, akan ada pertanggungjawaban di akhirat atas setiap tindakan yang tidak adil.
Inti Pesan QS. An-Nisa Ayat 135 :
Ayat ini adalah pilar etika dan hukum dalam Islam, yang menuntut :
1. Integritas Dan Kejujuran Mutlak : Menuntut setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang jujur dan adil dalam segala situasi, bahkan jika itu merugikan diri sendiri atau orang terdekat.
2. Keadilan Universal : Keadilan harus diterapkan tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau kemiskinan seseorang. Semua sama di hadapan hukum Allah.
3. Melawan Hawa Nafsu : Keadilan tidak akan tegak jika seseorang dikendalikan oleh hawa nafsu, prasangka, atau kepentingan pribadi.
4. Tanggung Jawab Moral Dan Hukum : Ada pertanggungjawaban di dunia dan akhirat bagi mereka yang memutarbalikkan fakta atau enggan bersaksi demi kebenaran.
Ayat ini merupakan fondasi penting bagi pembentukan masyarakat yang adil dan beradab, di mana kebenaran ditegakkan dan hak-hak setiap individu terlindungi.
Apa Yang Di Maksud Dengan Superlatif/Globalisasi ? :
Penjelasan Lengkap Superlatif/Globalisasi :
Superlatif/Globalisasi adalah suatu proses di mana individu, kelompok, perusahaan, dan negara di seluruh dunia menjadi semakin saling terhubung dan saling bergantung dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, teknologi, budaya, dan politik. Globalisasi ditandai dengan meningkatnya pertukaran barang, jasa, informasi, dan manusia lintas negara.
Superlatif/Globalisasi dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang pesat, serta kebijakan perdagangan bebas. Akibatnya, batas-batas geografis dan budaya menjadi lebih “kabur”, dan dunia terasa lebih kecil dan saling terhubung.
Contoh Nyata Superlatif/Globalisasi :
superlatif/globalisasi adalah kemudahan membeli produk dari luar negeri secara online, adanya perusahaan multinasional, atau tren budaya seperti K-pop yang mendunia.
Superlatif/Globalisasi adalah proses paling berpengaruh abad ini yang menghubungkan seluruh dunia secara ekonomi, budaya, dan teknologi, membuat batas negara menjadi semakin tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tanggung Jawab Mendidik Akhlak : Orang tua memiliki amanah besar untuk mendidik anak agar memiliki akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Kisah Mahabharata menunjukkan bahayanya membiarkan anak tumbuh dengan sifat tamak, sombong, dan zalim. Dalam Islam, pendidikan akhlak adalah prioritas utama, dimulai dari memperkenalkan tauhid, mengajarkan shalat, hingga menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab.
3. Prioritas Pada Kebenaran, Bukan Sekadar Kasih Sayang Emosional : Kasih sayang orang tua hendaknya tidak mengalahkan prinsip kebenaran dan keadilan. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua harus mampu menegur, membimbing, dan bahkan memberikan sanksi yang mendidik, demi kebaikan anak itu sendiri. Memanjakan anak secara berlebihan hingga mengabaikan kesalahan mereka adalah bentuk kelalaian yang dapat merugikan masa depan anak di dunia dan akhirat.
4. Menjadi Teladan Yang Baik : Dhritarashtra gagal menjadi teladan keadilan dan kebijaksanaan bagi putranya. Dalam Islam, orang tua adalah qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi anak-anaknya. Perkataan dan perbuatan orang tua sangat memengaruhi pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, orang tua harus senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang bertakwa, jujur, dan berakhlak mulia.
5. Membimbing Anak Memahami Konsekuensi : Kisah Mahabharata jelas menunjukkan konsekuensi mengerikan dari tindakan-tindakan buruk yang tidak dicegah. Orang tua muslim perlu membimbing anak untuk memahami konsekuensi dari setiap perbuatan, baik di dunia maupun di akhirat. Ini termasuk mengajarkan mereka tentang pahala dan dosa, serta pentingnya pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kesimpulan :
Film Mahabharata bukan kitab suci, tapi bisa menjadi cermin sejarah dan budaya yang mengandung hikmah. Dengan pandangan fikih Islam, kita dapat mengambil pelajaran bahwa parenting Islami harus menghindari cinta buta yang membutakan nurani dan menodai amanah.
Kisah Mahabharata, dengan segala kompleksitasnya, memberikan pelajaran berharga tentang bahaya cinta buta yang mengalahkan akal sehat dan prinsip keadilan. Dari sudut pandang Islam, pelajaran ini semakin relevan dalam konteks fikih parenting. Orang tua muslim diamanahi untuk mencintai anak-anaknya dengan cinta yang sehat, berlandaskan iman, keadilan, dan tanggung jawab untuk mendidik mereka menjadi generasi yang saleh dan salihah. Cinta yang sejati adalah cinta yang membimbing menuju kebaikan, bukan yang membutakan mata hati dan menjerumuskan pada kebinasaan.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah uswah hasanah dalam mendidik anak-anak sahabat dan keluarga, maka umat Islam hendaknya menjadikan prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sebagai pilar utama dalam membangun generasi.
“Cinta Yang Benar bukan Membutakan, Tapi Menuntun Ke Jalan Allah.”
📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
Ucapan Terima Kasih :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Dengan penuh rasa syukur, saya ucapkan jazākumullāhu khayran katsīrā kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktu, hati, dan pikiran untuk menyimak tulisan ini. Semoga setiap ilmu dan hikmah yang terkandung di dalamnya menjadi amal jariyah, baik bagi penulis maupun bagi pembaca sekalian.
Bila terdapat kebenaran dalam tulisan ini, maka itu semata-mata datang dari Allah ﷻ; dan bila ada kekeliruan, itu berasal dari diri saya pribadi.
Mohon doa dan dukungan agar kami senantiasa diberikan kekuatan untuk terus menghadirkan karya-karya yang bermanfaat, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperkuat keimanan kita bersama.
Semoga artikel ini bermanfaat sebagai bahan renungan dan pegangan dalam mengasuh generasi yang lebih bertakwa, adil, dan bijaksana. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjadi orang tua yang amanah dan mendidik anak-anak kita di atas jalan yang diridhai-Nya.
Wassalāmu ‘Alaikum Warahmatullāhi Wabarakātuh.
Editor : MUH. IKHSAN AM
( INSPIRATOR-RAKYAT.COM )
( PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )
📚 Referensi Utama Bacaan Dari Literatur Islam :
1. Al-Qur’an Al-Karim :
• Surah Luqman Ayat 13 –19 (Nasihat Luqman Kepada Anaknya)
• Surah Yusuf (Kisah Nabi Ya’qub Dan Anak-Anaknya, Relevan Dengan Konflik Keluarga)
• Surah An-Nisa’ Ayat 135 (Tentang Keadilan, Bahkan Terhadap Diri Dan Keluarga Sendiri)
2. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam :
• Shahih Bukhari & Muslim (terutama hadist Tentang Keadilan Dalam Keluarga Dan Sikap Terhadap Anak)
• Misalnya : “Fatimah binti Muhammad mencuri…” (HR. Bukhari, Muslim)
3. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah :
📘 Tuhfatul Maudud Bi Ahkamil Maulud
(Ulama klasik yang sangat menekankan prinsip pendidikan anak dalam Islam, mulai dari adab hingga hak anak)
4. Al-Ghazali :
📘 Ihya’ Ulumuddin, Kitab Adab al-Tarbiyah
(Memuat refleksi pendidikan karakter dan adab sebagai fondasi pembinaan anak)
5. Abdurrahman An-Nahlawi :
📘 Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat
(Karya kontemporer yang sistematis dalam menyatukan fikih tarbiyah dengan prinsip psikologi)
1. Sumber : https://inspirator-rakyat.com/bahaya-cinta-buta-belajar-fikih-parenting-dari-film-mahabharata-sebuah-renungan-islam/
2. Sumber : https://www.instagram.com/p/DLE6-ntMC83/?img_index=1
3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-012-018/
4. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-004-135/





