Informasi Sebagai Instrumen Kekuasaan Antara Realitas Sosial Indonesia Dan Dunia Fiksi One Piece
Informasi Sebagai Instrumen Kekuasaan Antara Realitas Sosial Indonesia Dan Dunia Fiksi One Piece
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
Oleh : MUH. IKHSAN AM
Inspirator-Rakyat.com-Dalam dunia nyata maupun dunia fiksi, kendali atas informasi sering kali lebih menentukan nasib seseorang dibandingkan kebenaran itu sendiri. Peristiwa tragis yang menimpa seorang pengendara ojek online di Indonesia, yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis (RANTIS) Barracuda saat sedang menjalankan pekerjaannya, menyingkap luka lama tentang relasi timpang antara rakyat kecil dan kekuatan besar yang beroperasi di balik simbol otoritas dan keamanan. Di sisi lain, dunia fiksi seperti One Piece memberikan gambaran metaforis yang mengerikan namun relevan tentang hal serupa World Government entitas tertinggi dalam dunia tersebut mengontrol narasi global hingga sanggup memutarbalikkan sejarah, menyembunyikan kebenaran, dan menjadikan manusia hanya sebagai bagian dari “kerusakan samping” (collateral damage) demi mempertahankan hegemoni.
Kematian pengendara ojek online bukan hanya soal kecelakaan tragis. Ini tentang bagaimana sebuah peristiwa dapat dikemas, disorot, atau bahkan disembunyikan melalui lensa media dan aparat kekuasaan. Siapa yang memegang narasi, dialah yang menentukan siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang berhak atas simpati publik. Jika publik diberi narasi bahwa kematian itu adalah “insiden di luar kendali”, maka selesai sudah nyawa manusia menjadi catatan kaki dalam laporan harian, bukan sebuah tragedi kemanusiaan yang memerlukan pertanggungjawaban. Fenomena ini sejalan dengan cara World Government dalam One Piece menyebarkan informasi palsu bahwa Sabo membunuh Raja Cobra padahal fakta yang sesungguhnya disembunyikan demi melindungi figur kekuasaan sejati Imu dan para Gorosei.
Dari titik ini, tampak jelas bahwa informasi bukanlah sekadar data. Ia adalah senjata. Ia bisa menjadi pelindung kekuasaan, sekaligus alat pembenaran atas kekerasan. Dalam struktur sosial dan politik, siapa yang memiliki otoritas informasi, memiliki kuasa atas realitas itu sendiri. Dunia nyata dan dunia fiksi sama-sama memperlihatkan bahwa kendali atas informasi dapat mengorbankan siapa saja termasuk mereka yang tak pernah masuk dalam arena politik atau kekuasaan rakyat biasa, pekerja informal, bahkan mereka yang hanya ingin pulang ke rumah dengan selamat.
Paradoksnya, dalam dua dunia ini baik nyata maupun fiksi yang menjadi korban utama bukanlah mereka yang berada di puncak, melainkan mereka yang berada paling bawah dalam struktur sosial. Ojek online dalam dunia nyata, atau rakyat biasa dalam dunia One Piece, hanya punya satu kesamaan yang menyedihkan mereka bisa mati karena kebohongan yang disusun oleh kekuatan besar. Maka, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang salah ?, melainkan siapa yang mengendalikan narasi ?
Dengan memahami ini, kita diajak untuk menelisik lebih dalam: bagaimana informasi dikendalikan, dimanipulasi, dan dikomodifikasi menjadi alat kekuasaan? Dan lebih jauh, seberapa mahal harga yang harus dibayar untuk menyembunyikan kebenaran ? Terkadang, jawabannya adalah satu nyawa. Dan sering kali, satu nyawa pun tidak cukup.
1. Pendahuluan :
Peristiwa tragis kematian seorang pengendara ojek online yang dilindas kendaraan taktis Barracuda tidak hanya menyulut kemarahan publik, tetapi juga membuka diskursus yang lebih luas tentang kontrol informasi oleh pihak yang berkuasa. Narasi ini, ketika disandingkan dengan kisah fiksi dalam One Piece, memberi kita cermin yang tajam tentang bagaimana informasi dapat menjadi alat hegemonik, yang berdampak langsung terhadap kehidupan manusia secara harfiah dan simbolis.
2. Kasus Di Dunia Nyata Kekerasan Negara Dan Monopoli Informasi :
Dalam banyak konteks negara, termasuk Indonesia, negara memiliki kemampuan institusional untuk mengendalikan arus informasi. Ini bisa dilakukan melalui :
• Kontrol Media Arus Utama Melalui Regulasi Atau Tekanan Politik.
• Pengaburan Fakta Dalam Laporan Resmi.
• Stigmatisasi Atau Kriminalisasi Terhadap Kelompok Yang Di Anggap Lawan Politik.
• Penyebaran Disinformasi Untuk Mengarahkan Opini Publik.
Dalam kasus kematian pengendara ojek online tersebut, terdapat ketimpangan antara narasi yang muncul di lapangan (melalui saksi dan video warga) dan narasi resmi yang dibentuk oleh institusi negara. Ketika masyarakat mempertanyakan versi resmi tersebut, mereka seringkali berhadapan dengan ancaman represi, baik secara fisik, digital, maupun psikologis.
3. Dunia Fiksi World Government Dan Politik Informasi Dalam One Piece :
Dalam One Piece, karya Eiichiro Oda, kita diperlihatkan bagaimana World Government mengendalikan kebenaran historis dan narasi publik :
• Void Century (Abad Kekosongan) Adalah Masa 100 Tahun Sejarah Yang Sengaja Di Hapus Dari Ingatan Kolektif Manusia.
• Organisasi Ilmiah Dan Sejarah Seperti Ohara Di Musnahkan Karena Mencoba Mengungkap Fakta Sejarah Yang Di Sembunyikan.
• Pembunuhan Raja Cobra Oleh Elit Tertinggi Dunia (Imu Dan Gorosei/Five Elders) Di Putarbalikkan Sebagai Aksi Terorisme Oleh Sabo, Menggunakan Dalih “Hasil Investigasi Resmi”.
• Surat Kabar, Agensi Berita, Dan Bahkan Laksamana Angkatan Laut Menjadi Alat Penyebar Versi “Kebenaran” Versi Pemerintah Dunia.
Analogi ini tidaklah kebetulan; One Piece mengangkat tema propaganda, rekayasa sejarah, dan kekuasaan informasi yang sangat mirip dengan praktik dalam kehidupan nyata.
4. Persilangan Realitas Dan Fiksi Mengapa Relevan ? :
Penyandingan antara kasus nyata dan fiksi bukan sekadar hiburan atau retorika, tetapi memiliki fungsi epistemologis: ia mengungkap bahwa kekuasaan atas informasi bukan hanya isu lokal atau nasional, tetapi bersifat universal dan lintas ruang imajinatif.
Beberapa Poin Reflektif :
• Informasi Adalah Kekuasaan (Michel Foucault) : Pengendalian pengetahuan adalah bentuk dominasi sosial.
• Disinformasi Bisa Membunuh Secara Langsung : (melalui pembenaran tindakan kekerasan) atau tidak langsung (dengan menciptakan apatisme publik).
• Kebenaran : Seringkali menjadi korban pertama dalam konflik kepentingan
• Ketika Negara Atau Institusi Punya Monopoli Atas Narasi : Versi yang berbeda dari rakyat menjadi delegitimasi atau dikriminalisasi.
5. Pengaruh Global Ketimpangan Informasi Sebagai Masalah Dunia :
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia atau dunia fiksi One Piece. Kita melihat bagaimana :
• Perang Ukraina-Rusia : Di penuhi oleh narasi tandingan dari media Barat dan Rusia.
• Konflik Israel-Palestina : Memunculkan perang informasi yang memperlihatkan bagaimana kebenaran bisa disesuaikan dengan kepentingan geopolitik.
• Whistleblower Seperti Edward Snowden Atau Julian Assange : Menjadi bukti bahwa penguasa informasi bisa memutuskan siapa yang dianggap “pengkhianat” atau “pahlawan”.
6. Informasi Sebagai Senjata :
Seperti yang ditulis dalam kutipan tadi :
“Informasi bukan hanya alat kekuasaan, melainkan senjata yang harganya bisa semahal nyawa. Bahkan, sering kali, satu nyawa saja tidak cukup bagi mereka yang menguasainya.”
Kita hidup dalam dunia di mana kontrol informasi adalah bentuk kekuasaan tertinggi. Entah dalam kenyataan atau fiksi, monopoli atas narasi memungkinkan kekuatan besar untuk :
• Menghilangkan Sejarah.
• Menghapus Keadilan.
• Menentukan siapa pahlawan dan siapa penjahat.
Sebagai warga dan pembelajar, tanggung jawab kita bukan hanya menerima informasi, tetapi mengkritisinya, membandingkan sumbernya, dan menyuarakan alternatifnya, terutama ketika nyawa manusia menjadi korban narasi yang direkayasa.
Referensi Ilmiah :
• Foucault, M. (1977). Discipline and Punish : Tentang hubungan kekuasaan dan pengetahuan.
• Chomsky, N. & Herman, E.S. (1988). Manufacturing Consent : Bagaimana media membentuk opini publik.
• Kellner, D. (1995). Media Culture : Pengaruh media dalam membentuk realitas sosial.
Editor  : MUH. IKHSAN AMÂ
(Â INSPIRATOR-RAKYAT.COMÂ )
(Â PEJUANG ASPIRASI RAKYATÂ )
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
Sumber : https://inspirator-rakyat.com/informasi-sebagai-instrumen-kekuasaan-antara-realitas-sosial-indonesia-dan-dunia-fiksi-one-piece/





