Tetap Berikan Luaran Yang Baik Dari Kerjaanmu Sepayah Apa Pun Kerjaan Yang Gak Bikin Kaya Itu, Udah Bantu Kita Bertahan Hidup

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

Tetap Berikan Luaran Yang Baik Dari Kerjaanmu Sepayah Apa Pun Kerjaan Yang Gak Bikin Kaya Itu, Udah Bantu Kita Bertahan
Hidup

Oleh : MUH IKHSAN AM,

Inspirator-Rakyat.com-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa lelah, bahkan putus asa terhadap pekerjaan yang kita jalani. Terutama jika pekerjaan itu tidak memberikan kemewahan materi atau peningkatan taraf hidup secara drastis. Namun, Islam mengajarkan kita untuk memandang pekerjaan bukan semata-mata sebagai sumber kekayaan, melainkan sebagai bentuk ibadah, amanah, dan sarana bertahan hidup dengan penuh kemuliaan.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, seringkali kita tergoda untuk menilai pekerjaan hanya dari seberapa besar kekayaan yang bisa dihasilkannya. Kita melihat orang-orang yang “berhasil” sebagai mereka yang bergelimang harta, sementara pekerjaan yang tidak menjanjikan kekayaan sering kali dipandang sebelah mata, bahkan diremehkan. Namun, sebagai seorang Muslim, pandangan kita terhadap pekerjaan seharusnya lebih mendalam dan memiliki dimensi spiritual yang kuat. Pekerjaan, sekalipun itu “hanya” membantu kita bertahan hidup, memiliki nilai luhur di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merupakan sarana untuk beribadah.

1. Pekerjaan Adalah Amanah Dan Bentuk Ibadah :

Dalam Islam, pekerjaan apapun bentuknya, selama halal dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda :

“مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.”

رواه البخاري

Artinya :

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

“Diriwayatkan Oleh Bukhari”

Penjelasan Singkat Hadist :

Hadist riwayat Imam Bukhari ini mengandung pesan yang sangat mendalam tentang kemandirian, nilai usaha, dan keberkahan dalam mencari rezeki yang halal.

• “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari kerja tangannya sendiri.”

Kalimat ini menegaskan bahwa rezeki yang diperoleh dari jerih payah, keringat, dan keahlian sendiri memiliki nilai kebaikan dan keberkahan yang lebih tinggi dibandingkan rezeki yang diperoleh tanpa usaha, seperti meminta-minta atau bergantung pada orang lain. Ada kepuasan batin dan kemuliaan dalam merasakan hasil dari usaha pribadi.

• “Dan sesungguhnya Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

Penyebutan Nabi Dawud ‘alaihissalam di sini berfungsi sebagai contoh teladan yang kuat. Nabi Dawud adalah seorang raja dan nabi yang memiliki kedudukan tinggi, namun beliau tidak malu atau enggan untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Diketahui bahwa Nabi Dawud memiliki keahlian dalam membuat baju besi (zirah), dan dari hasil kerajinan tangannya itulah beliau menghidupi dirinya. Ini menunjukkan bahwa bekerja keras dan mandiri adalah sifat yang terpuji, bahkan bagi seorang pemimpin dan nabi.

Hadist ini mendorong umat Islam untuk produktif, kreatif, dan tidak malas dalam mencari nafkah. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan dan keberkahan terletak pada usaha dan keringat yang halal, bukan pada kemudahan atau bergantung pada belas kasihan orang lain.

Pekerjaan, betapa pun kecilnya, memiliki nilai spiritual jika dilakukan dengan niat yang benar. Islam tidak mengukur kemuliaan seseorang dari kekayaan, melainkan dari keikhlasan dan integritas dalam menjalankan amanahnya.

2. Luaran Baik Adalah Cermin Keimanan :

Dalam surah At-Taubah ayat 105, Allah berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ١٠٥

Dan katakanlah (Muhammad), “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

QS. At-Taubah ayat : 105

Tafsir Singkat QS. At-Taubah ayat : 105

Ayat ini merupakan dorongan kuat bagi umat Islam untuk senantiasa beramal shalih dan melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam untuk menyampaikan pesan ini kepada umatnya.

Poin-Poin Penting Dalam Tafsir Ayat Ini Adalah :

• Perintah Untuk Beramal : Ayat ini menekankan pentingnya bekerja dan berusaha dalam kehidupan. Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kontribusi nyata dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual. Amal di sini mencakup segala bentuk perbuatan baik, baik yang berkaitan dengan hak Allah (ibadah) maupun hak sesama manusia (muamalah).

• Amal Di Lihat Oleh Allah, Rasul, Dan Kaum Mukminin :

• Allah Subhanahu Wa Ta’ala : Segala amal perbuatan manusia, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, tidak akan luput dari penglihatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini memberikan motivasi sekaligus pengawasan bagi seorang mukmin untuk selalu berbuat yang terbaik.

• Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam : Pada masa hidup beliau, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melihat dan menilai amal para sahabatnya. Setelah wafat beliau, pandangan “Rasulullah” bisa ditafsirkan sebagai ajaran dan sunah beliau yang menjadi pedoman dalam menilai amal umat.

• Orang-Orang Mukmin : Amal seseorang juga akan dilihat dan diketahui oleh sesama orang mukmin. Ini mendorong seseorang untuk berbuat baik agar menjadi teladan dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Namun, niat utama haruslah karena Allah, bukan semata-mata mencari pujian manusia.

• Pertanggungjawaban Di Akhirat : Bagian akhir ayat ini menegaskan bahwa pada akhirnya, semua manusia akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Maha Mengetahui segala yang gaib (tidak terlihat) dan yang nyata (terlihat). Di hari kiamat, Allah akan memberitakan secara rinci kepada setiap hamba-Nya tentang apa saja yang telah mereka kerjakan di dunia. Ini adalah peringatan keras tentang adanya hari perhitungan dan balasan atas setiap perbuatan.

Secara keseluruhan, ayat ini mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam beramal, profesionalisme dalam bekerja, dan kesadaran akan adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setiap amal yang dilakukan dengan niat tulus dan sesuai syariat akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kerja memiliki dampak baik di dunia maupun di sisi Allah. Maka, setiap Muslim hendaknya berusaha memberikan luaran yang terbaik, bahkan dari pekerjaan yang tampak sederhana sekalipun. Seorang tukang sapu jalan yang bersih hatinya dan ikhlas pekerjaannya bisa lebih mulia di sisi Allah daripada pejabat yang korup.

3. Kaya Tidak Selalu Jadi Tujuan, Tapi Cukup Itu Nikmat :

Rasulullah ﷺ Bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

“لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.”

(رواه البخاري ومسلم)

Artinya :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda (keduniaan), akan tetapi kekayaan (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa (hati).”

(Diriwayatkan Oleh Imam Bukhari Dan Imam Muslim)

Penjelasan Singkat Hadist :

Hadist ini mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan sejati bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan oleh ketenangan, kepuasan, dan rasa cukup dalam hati (jiwa). Orang yang kaya harta namun selalu merasa kurang, serakah, dan tidak pernah puas, sesungguhnya ia adalah orang yang miskin. Sebaliknya, orang yang mungkin hartanya tidak banyak, namun memiliki jiwa yang qana’ah (merasa cukup), bersyukur, dan tenang, dialah orang yang benar-benar kaya.

Kerjaan yang tidak membuat kita kaya bukan berarti sia-sia. Jika dari pekerjaan itu kita bisa makan, menyekolahkan anak, membantu orang tua, dan tetap menjaga harga diri tanpa meminta-minta itu adalah bentuk rezeki yang penuh keberkahan.

4. Allah Menilai Proses, Bukan Sekedar Hasil :

Dalam dunia kerja, sering kali kita merasa hasil tak sebanding dengan usaha. Tapi Islam mengajarkan bahwa niat, proses, dan kejujuran adalah penentu nilai amal. Bahkan dalam Surah Al-Mulk ayat 2, Allah Berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ٢

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”

(QS. Al-Mulk Ayat : 2)

Tafsir Singkat QS. Al-Mulk Ayat : 2

Ayat kedua dari Surah Al-Mulk ini menjelaskan salah satu tujuan utama penciptaan kematian dan kehidupan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berikut adalah poin-poin penting dalam tafsirnya :

• Penciptaan Kematian Dan Kehidupan : Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang memiliki kuasa penuh atas kematian dan kehidupan. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase transisi menuju kehidupan selanjutnya. Begitu pula kehidupan di dunia ini, bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan. Penyebutan kematian sebelum kehidupan dalam ayat ini menunjukkan bahwa kematian itu nyata dan pasti akan datang, dan kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk beramal saleh selama hidupnya.

• Tujuan Ujian (Li Yabluwakum) : Tujuan utama dari penciptaan kematian dan kehidupan adalah sebagai ujian bagi manusia. Kehidupan di dunia ini adalah medan ujian di mana manusia diberi kebebasan memilih antara berbuat kebaikan atau keburukan. Ujian ini bukanlah untuk Allah mengetahui, karena Dia Maha Mengetahui segalanya, tetapi untuk menampakkan secara nyata amal perbuatan manusia di dunia.

• Siapa Yang Lebih Baik Amalnya (Ayyukum Ahsanu ‘Amala) : Kata “lebih baik amalnya” (أَحْسَنُ عَمَلًا) tidak hanya merujuk pada kuantitas amal, tetapi lebih pada kualitas dan keikhlasan amal tersebut. Amal yang baik adalah amal yang dilakukan sesuai dengan syariat Allah, didasari oleh iman yang benar, dan diniatkan semata-mata karena Allah. Ini mendorong manusia untuk senantiasa introspeksi dan meningkatkan kualitas ibadah serta perbuatannya.

• Nama Dan Sifat Allah (Al-Azizul Ghafur) :

• Al-Aziz (Maha Perkasa): Menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, termasuk dalam menciptakan dan menguji makhluk-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya.

• Al-Ghafur (Maha Pengampun) : Menunjukkan bahwa meskipun Allah Maha Perkasa dan memiliki kekuasaan untuk menghukum, Dia juga Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan berusaha memperbaiki diri. Ini adalah rahmat dan harapan bagi manusia yang mungkin tergelincir dalam dosa, asalkan mereka kembali kepada-Nya dengan penyesalan dan niat baik.

Bukan terbanyak, tapi terbaik. Maka, kualitas kerja, integritas, dan ketulusan menjadi lebih penting dibanding sekadar kuantitas hasil.

5. Bertahan Hidup Dengan Halal Itu Mulia :

Banyak orang bertanya “Untuk apa kerja keras kalau gak bikin kaya?” Jawabannya adalah: untuk tetap hidup dalam keadaan halal dan bermartabat. Dalam Islam, bekerja untuk mencukupi diri dan keluarga termasuk jihad fi sabilillah.

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

(رواه أبو داود)

Artinya :

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya (atau orang yang ia nafkahinya).”

Diriwayatkan Oleh Abu Dawud

Penjelasan Dan Makna Hadist :

Hadist ini, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, menegaskan bahwa melalaikan atau menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungan seseorang adalah sebuah dosa besar. Poin-poin penting dari hadis ini meliputi :

• “Cukuplah Seseorang Di Anggap Berdosa…” : Frasa ini menunjukkan bahwa perbuatan menelantarkan tanggungan sudah cukup sebagai bukti dosa seseorang, bahkan mungkin tanpa perlu mencari dosa-dosa lain yang lebih besar. Ini mengindikasikan betapa seriusnya perbuatan tersebut dalam pandangan syariat.

• “…jika ia menelantarkan…” (أَنْ يُضَيِّعَ – An Yuḍayyi’a) : Kata ini mengandung makna menyia-nyiakan, melalaikan, atau tidak memenuhi hak-hak yang seharusnya diberikan. Penelantaran di sini bisa dalam berbagai bentuk, baik dari segi nafkah (makanan, pakaian, tempat tinggal), pendidikan, kasih sayang, maupun bimbingan agama dan moral.

• “…orang yang menjadi tanggungannya (Man Yaqūt – مَنْ يَقُوتُ)” : Frasa man yaqūt secara harfiah berarti “orang yang ia beri makan” atau “orang yang ia nafkahi”. Ini merujuk pada individu-individu yang berada di bawah tanggung jawab finansial dan moral seseorang. Dalam konteks umum, ini mencakup :

• Istri Dan Anak-Anak : Ini adalah prioritas utama dalam kewajiban nafkah.

• Orang Tua Yang Membutuhkan : Jika orang tua sudah tidak mampu menafkahi diri sendiri.

• Kerabat Dekat Lainnya : Seperti saudara kandung, paman, bibi, atau keponakan yang berada dalam kondisi membutuhkan dan tidak ada lagi yang menanggung mereka.

• Budak Atau pembantu : Pada masa lalu, hadis ini juga berlaku untuk budak atau pelayan yang menjadi tanggungannya.

Hadist ini menekankan pentingnya pemenuhan hak-hak dasar bagi mereka yang berada di bawah tanggungan kita. Kewajiban ini bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga memastikan kesejahteraan hidup mereka secara menyeluruh, termasuk pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Melalaikan tanggung jawab ini tidak hanya berdampak buruk pada individu yang ditelantarkan, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka setiap upaya yang dilakukan agar kita tidak menggantungkan hidup pada orang lain adalah amal shalih, walaupun hasilnya kecil.

Hakikat Rezeki Dan Keberkahan Dalam Islam :

Dalam Islam, rezeki bukan semata-mata diukur dari jumlah materi yang kita miliki. Rezeki adalah segala sesuatu yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menopang kehidupan, baik itu berupa harta, kesehatan, waktu luang, ilmu, keluarga, atau bahkan ketenangan hati. Penting untuk diingat bahwa rezeki Allah itu luas dan tidak terbatas hanya pada uang.

Konsep keberkahan menjadi kunci di sini. Sebuah pekerjaan yang tidak menghasilkan banyak uang bisa jadi justru memiliki keberkahan yang melimpah. Keberkahan adalah bertambahnya kebaikan pada sesuatu. Pekerjaan yang berkah adalah pekerjaan yang membuat kita merasa cukup, tenang, mampu menunaikan hak-hak Allah dan sesama, serta memberikan ketenangan batin, meskipun secara materi tidak berlimpah.

Mengapa Tetap Memberikan Yang Terbaik ? :

Lalu, mengapa kita harus tetap memberikan luaran yang terbaik dari pekerjaan kita, sekecil apa pun upahnya, atau sesulit apa pun pekerjaannya ?

1. Ibadah Dan Ketakwaan : Bekerja adalah bagian dari ibadah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…” (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini menegaskan bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan akan dilihat oleh Allah dan Rasul-Nya. Memberikan yang terbaik dalam pekerjaan adalah bentuk ketakwaan dan kesungguhan kita dalam menunaikan amanah, baik amanah dari Allah maupun amanah dari sesama manusia.

2. Kejujuran Dan Profesionalisme : Dalam Islam, kejujuran dan profesionalisme sangat dijunjung tinggi. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian bekerja, ia mengerjakannya dengan itqan (profesional/sempurna).” (HR. Al-Baihaqi). Ini berarti setiap pekerjaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, teliti, dan sesuai dengan standar yang terbaik, terlepas dari nilai materi yang dihasilkan. Integritas kita sebagai seorang Muslim tercermin dari kualitas kerja kita.

3. Syukur Atas Nikmat Bertahan Hidup : Pekerjaan, sekecil apapun, adalah sarana Allah untuk memberikan kita rezeki agar kita bisa bertahan hidup. Kita bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan tempat tinggal. Ini adalah nikmat yang luar biasa yang seringkali kita lupakan. Memberikan yang terbaik dalam pekerjaan adalah bentuk syukur kita atas nikmat bertahan hidup yang telah Allah berikan. Bayangkan jika kita tidak memiliki pekerjaan sama sekali, betapa sulitnya hidup ini.

4. Membuka Pintu Rezeki Lain: Terkadang, pekerjaan yang kita lakukan saat ini adalah “jembatan” menuju kesempatan yang lebih baik di masa depan. Dengan memberikan yang terbaik, kita membangun reputasi, memperluas jaringan, dan mengasah keterampilan. Ini bisa jadi adalah bekal yang akan membuka pintu rezeki lain yang lebih luas dan lebih berkah di kemudian hari. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

5. Menjaga Kehormatan Diri : Bergantung pada orang lain secara terus-menerus bukanlah sikap yang terpuji dalam Islam. Bekerja, meskipun hasilnya tidak melimpah, adalah cara untuk menjaga kehormatan diri dan tidak menengadahkan tangan kepada orang lain. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja dan tidak bermalas-malasan.

Tips Menerapkan Prinsip Ini Dalam Kehidupan Sehari-Hari :

• Niatkan Karena Allah : Sebelum memulai pekerjaan, perbaharui niat bahwa kita bekerja semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan hanya untuk mencari uang.

• Fokus Pada Kualitas, Bukan Kuantitas Materi : Kerjakan setiap tugas dengan sebaik-baiknya, seolah-olah itu adalah ibadah yang paling penting.

• Bersyukur Atas Apa Yang Ada : Biasakan diri untuk bersyukur atas rezeki yang Allah berikan melalui pekerjaan, sekecil apapun itu.

• Berdoa Dan Bertawakal : Setelah berusaha maksimal, serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berdoa agar pekerjaan kita diberkahi dan menjadi ladang pahala.

• Hindari Keluhan Yang Berlebihan : Memang, ada kalanya pekerjaan terasa berat dan gaji tidak sepadan. Namun, daripada terus mengeluh yang bisa mengurangi keberkahan, lebih baik fokus pada cara untuk meningkatkan kualitas diri atau mencari peluang lain tanpa mengabaikan tugas yang ada.

Pekerjaan Yang “Tidak Bikin Kaya” : Mungkin secara materi tidak memberikan kemewahan dunia, namun ia adalah sarana Allah untuk menjaga kita tetap bertahan hidup, menjaga kehormatan diri, dan yang terpenting, ia adalah pintu menuju keberkahan dan pahala di akhirat. Teruslah berikan yang terbaik dari setiap pekerjaanmu, karena sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan dan bersungguh-sungguh dalam setiap amanah yang diembannya.

📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI

📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM

1. Sumber : https://inspirator-rakyat.com/tetap-berikan-luaran-yang-baik-dari-kerjaanmu-sepayah-apa-pun-kerjaan-yang-gak-bikin-kaya-itu-udah-bantu-kita-bertahan-hidup/

2. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-009-105/

3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-067-002/

Editor   : MUH. IKHSAN AM 

INSPIRATOR-RAKYAT.COM )

PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )