REFLEKSI DIRI TAHUN BARU ISLAM 1447 H : KALAU BUKAN KARENA AKHIRAT
REFLEKSI DIRI TAHUN BARU ISLAM 1447 H : KALAU BUKAN KARENA AKHIRAT
📌POSTINGANKU PENGINGAT DIRIKU
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
Oleh : MUHAMMAD YUSTANG
1 Muharram 1447 H (26 Juni 2025).
Di awal tahun baru Islam ini, aku kembali memperbanyak muhasabah… Bertanya dalam diam: ke mana sebenarnya arah perjuangan ini seharusnya berjalan ?
Inspirator-Rakyat.com–Aku teringat, seorang ustadz pernah bercerita dari balik jeruji besi tentang Umar bin Khattab yang mengguncang Persia, bukan dengan senjata canggih, tapi dengan iman yang membakar dunia.
Tentang Khalid bin Walid yang tak pernah kalah perang, tapi justru menangis karena tak sempat syahid di medan laga.
Tentang seorang pemuda bernama Muhammad al-Fatih, yang di usia 21 menembus Konstantinopel dan mengguncang Eropa.
Tentang perjuangan Salahuddin menyatukan negeri-negeri muslim hingga membebaskan Baitul Maqdis karena ia tahu, yang ia perjuangkan bukan sekadar tanah, tapi amanah Allah.
Tentang Ertugrul Gazi, yang tak memiliki kekuasaan besar, tapi mewariskan bara semangat yang membakar dunia Islam selama 600 tahun ke depan.
Aku bertanya dalam diam, “Kalau bukan karena akhirat…buat apa seseorang memilih jalan sempit ketika dunia menawarkan begitu banyak jalan pintas ?”
Apa yang membuat Bilal tetap mengucap “Ahad… Ahad…” di bawah batu yang menindih dadanya?
Apa yang membuat Imam Ahmad tetap menolak menyebut Al-Qur’an sebagai makhluk meski cambuk melukai tubuhnya hingga pingsan ?
Apa yang membuat Sayyid Qutb menolak tunduk di pengadilan tirani, meski lehernya dipertaruhkan ?
Mereka bisa saja selamat.
Asalkan mereka berkompromi.
Tapi mereka tidak sedang bernegosiasi dengan dunia mereka sedang menyiapkan jawaban untuk akhirat.
Imam Nawawi menolak permintaan raja, meski bisa membuatnya hidup nyaman.
Imam Malik menolak mencabut fatwanya, meski dicambuk dan diasingkan.
Khalifah Abdul Hamid II menolak tawaran besar dari gerakan Zionis yang jika disetarakan dengan nilai hari ini, mencapai 150 juta pound sterling (sekitar 3,3 triliun rupiah) karena Palestina bukan tanah yang bisa diperjualbelikan. Ia adalah amanah umat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Malek Bennabi berkata: “Kehidupan yang layak bukanlah ketika engkau bisa makan enak dan tidur nyenyak, tetapi ketika engkau bisa hidup sebagai manusia yang memikul tanggung jawab peradaban.” (The Question of Ideas in the Muslim World)
Jika hidup ini hanya tentang makan, kerja, menikah, dan mati… maka hewan pun lebih unggul dari manusia. Tapi manusia diberi beban. Manusia diberi akal dan wahyu. Dan manusia diberi tanggung jawab untuk berjuang menegakkan kebenaran, meski harus kehilangan dunia.
Hari ini, dunia sedang dikendalilan sistem buatan Barat. Palestina masih merintih, Umat Islam tercerai berai oleh batas-batas palsu negara bangsa.
Moral anak muda tergerus.
Riba dijadikan sistem ekonomi.
Maksiat dibungkus kebebasan.
Dan kebenaran dianggap radikal.
“Kita hidup di zaman ketika kebenaran harus dibuktikan dengan izin dari penguasa, dan kebatilan dibiarkan menjadi sistem resmi.” (Sayyid Abul A’la Maududi, Towards Understanding Islam dan Political Theory of Islam)
“Masalah umat hari ini bukan hanya penjajahan, tapi juga sistem kehidupan yang telah mencabut Islam dari perannya mengatur dunia.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidham al-Islam, Nidham al-Hukm, Ad-Daulah al-Islamiyyah)
Wahai jiwa-jiwa yang lelah, jangan berhenti. Karena jalan ini bukan jalan untuk menang cepat… Ini jalan untuk menyenangkan Allah, dan menjemput kampung akhirat.
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
Jika kamu merasa sendirian dalam perjuangan ini, ingatlah: para Nabi, ulama, dan para pejuang (mujahid) sebelum kita juga begitu. Mereka dibuang, dipenjara, difitnah, bahkan dibunuh…
Tapi kini mereka tertawa di surga, menangis haru di sisi Allah, karena dulu mereka memilih jalan berat… demi akhirat.
Kalau kau sudah sampai titik ini, izinkan aku bertanya: “Kalau bukan karena akhirat… apa yang sedang kau kejar sebenarnya?”
Wallahu’alam.
Pesan Penutup :
Pada momentum 1 Muharram 1447 H, penulis mengajak kita untuk bermuhasabah (introspeksi diri) secara mendalam: ke mana sebenarnya arah perjuangan hidup ini? Ia menyoroti bahwa jika hidup ini tidak diarahkan kepada akhirat, maka apa makna dari segala pengorbanan dan kesulitan yang ditempuh ?
Melalui kisah para tokoh besar Islam Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Muhammad al-Fatih, Salahuddin Al-Ayyubi, hingga Ertugrul Gazi penulis menggambarkan bahwa mereka tidak berjuang demi dunia, melainkan karena keyakinan akan amanah dan balasan akhirat.
Ia juga menyinggung perjuangan para ulama dan mujahid :
• Bilal bin Rabah yang tetap mengucap “Ahad… Ahad…” di bawah siksaan.
• Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Nawawi, Imam Malik, dan Khalifah Abdul Hamid II yang menolak kompromi dengan penguasa zalim demi menjaga prinsip Islam.
• Sayyid Qutb yang lebih memilih mati di tiang gantungan daripada tunduk pada tirani.
Refleksi utama adalah bahwa dunia ini hanyalah senda gurau, tempat ujian. Akhiratlah yang menjadi tujuan hakiki. Kemenangan bukan soal duniawi, melainkan keridhaan Allah. Dalam dunia yang semakin dikendalikan sistem sekuler Barat dimana riba, maksiat, dan moral rusak menjadi norma umat Islam harus kembali menjadikan akhirat sebagai pusat orientasi hidup.
Penulis mengutip para pemikir besar seperti Malek Bennabi, Sayyid Maududi, dan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, untuk menegaskan bahwa masalah utama umat bukan hanya penjajahan fisik, tapi juga penjajahan sistem dan pemikiran.
Jika perjuangan ini terasa berat, ingatlah bahwa para Nabi, ulama, dan pejuang terdahulu juga begitu mereka difitnah, disiksa, bahkan dibunuh. Namun, mereka kini menang di sisi Allah. Maka, jangan lelah menempuh jalan kebenaran, sebab tujuan kita bukan dunia… tapi akhirat.
Ucapan Terima Kasih :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Dengan penuh rasa syukur, saya ucapkan jazākumullāhu khayran katsīrā kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktu, hati, dan pikiran untuk menyimak tulisan ini. Semoga setiap ilmu dan hikmah yang terkandung di dalamnya menjadi amal jariyah, baik bagi penulis maupun bagi pembaca sekalian.
Bila terdapat kebenaran dalam tulisan ini, maka itu semata-mata datang dari Allah ﷻ; dan bila ada kekeliruan, itu berasal dari diri saya pribadi.
Mohon doa dan dukungan agar saya senantiasa diberikan kekuatan untuk terus menghadirkan karya-karya yang bermanfaat, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperkuat keimanan kita bersama.
Terima kasih kepada para guru kehidupan yang telah mendahului kita : Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayyubi, Ertugrul Gazi, Bilal bin Rabah, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Malik, Khalifah Abdul Hamid II, Sayyid Qutb, dan lainnya yang semangatnya terus mengalir dalam barisan orang-orang yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.
Terima kasih juga saya haturkan kepada para pemikir yang memberi cahaya dalam gelapnya sistem kehidupan hari ini: Malek Bennabi, Sayyid Abul A’la Maududi, dan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Melalui gagasan-gagasan merekalah kita semakin sadar bahwa penjajahan bukan hanya fisik, tapi juga sistemik dan ideologis.
Dan yang paling utama, saya bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla yang mengizinkan hati ini untuk tetap bergetar pada kalimat-Nya, meski kadang langkah lelah dan pandangan buram oleh urusan dunia.
Semoga refleksi ini tidak hanya menjadi tulisan yang dibaca, tapi cahaya yang menuntun. Mari kita kuatkan barisan, luruskan niat, dan perbaharui arah hidup: bahwa tujuan kita bukanlah tepuk tangan dunia, tetapi keridhaan Allah dan kampung akhirat.
Wallahu A’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Muhammad Yustang
1 Muharram 1447 H / 26 Juni 2025 M
____
📚 Referensi Bacaan:
1. Ibn Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah
2. Ibn Khaldun, Muqaddimah
3. Harun Yahya, The Muslim Heroes of Islam
4. Caroline Finkel, Osman’s Dream: The History of the Ottoman Empire
5. Malik Bennabi, The Problem of Ideas in the Muslim World
6. Sayyid Qutb, Ma’alim fi Al-Thariq
7. Maududi, S. Abul A’la, Towards Understanding Islam
8. Taqiyuddin An-Nabhani, Nidham al-Islam, Ad-Daulah al-Islamiyyah
Editor : MUH. IKHSAN AM
( INSPIRATOR-RAKYAT.COM )
( PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )
#utthank1453
#penaideologis
#tahunbaruislam1447H
#refleksimuharram
#hijrahuntukakhirat
#kalaubukankarenaakhirat
#muharram1447H
#fefleksidiri
#pemudabangkit
#pemudahijrah
#islamicquotes
#islamichistory
#islamicreminders
#spritualjourney
#kebangkitanumat
#muslimideologis
#peradabanislam
#sejarahislam
#khilafahbukanutopia
#khilafahajaranislam
#janganlupakanpalestina
#savegaza
#freepalestine
1. Sumber : https://whatsapp.com/channel/0029Vb1p3mGDzgTBn3vRwc3a/499
2. Sumber : https://inspirator-rakyat.com/refleksi-diri-tahun-baru-islam-1447-h-kalau-bukan-karena-akhirat/





