Allah Memberikan Kelebihan Pada Seseorang Dan Hanya Yang Beruntung Yang Di Berikan Sebuah Kelebihan
Allah Memberikan Kelebihan Pada Seseorang Dan Hanya Yang Beruntung Yang Di Berikan Sebuah Kelebihan
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
Oleh : MUH IKHSAN AM,
Inspirator-Rakyat.com-Dalam perjalanan hidup, kita sering menyaksikan bahwa tidak semua manusia dianugerahi kemampuan dan kondisi yang sama. Sebagian memiliki kecerdasan luar biasa, sebagian lain diberi kekuatan fisik, ada yang pandai berbicara, ada pula yang diberi hati yang lembut dan sabar. Semua ini adalah bagian dari sunnatullah ketetapan dan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing.
Kelebihan Bukan Sekadar Keistimewaan, Melainkan Amanah :
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman Dalam Surah Al-Isra’ Ayat 21 :
كَفَلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ بِمَا فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ۚ وَكُلًّا جَعَلۡنَا مَصَالِحَ وَمَنَافِعَ بَعۡضَهُمۡ لِبَعۡضٍ ۚ وَلَمَّا خَلَقۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ لِمَا فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ۚ وَكُلًّا جَعَلۡنَا مَصَالِحَ وَمَنَافِعَ بَعۡضَهُمۡ لِبَعۡضٍ ٢١
“Perhatikanlah bagaimana Kami telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain) dalam rezeki. Dan sungguh, kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.”
(QS. Al-Isra’ Ayat : 21)
Ayat ini berbicara tentang perbedaan derajat dan rezeki yang Allah berikan kepada manusia di dunia ini, dan kemudian membandingkannya dengan keutamaan derajat di akhirat.
1. “Perhatikanlah bagaimana Kami telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain) dalam rezeki.”
• Penjelasan : Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan dan mengamati fenomena yang jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari: adanya perbedaan dalam hal rezeki, kekayaan, kemampuan, kedudukan, dan berbagai aspek kehidupan duniawi di antara manusia. Ada yang kaya, ada yang miskin; ada yang sehat, ada yang sakit; ada yang pintar, ada yang kurang; ada yang memiliki kekuasaan, ada yang tidak.
• Hikmah : Perbedaan ini bukanlah tanpa tujuan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Bijaksana menciptakan perbedaan ini sebagai ujian bagi hamba-Nya. Bagi yang diberi kelebihan, ini adalah ujian untuk bersyukur dan berbagi. Bagi yang diberi kekurangan, ini adalah ujian untuk bersabar dan berusaha. Perbedaan ini juga menciptakan interdependensi antar manusia, di mana satu sama lain saling membutuhkan untuk menjalankan roda kehidupan. Misalnya, seorang pengusaha membutuhkan pekerja, dan pekerja membutuhkan pengusaha.
2. “Dan sungguh, kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.”
• Penjelasan : Setelah menunjukkan adanya perbedaan di dunia, Allah kemudian mengalihkan perhatian kita ke kehidupan akhirat. Ayat ini menegaskan bahwa meskipun ada perbedaan di dunia, perbedaan derajat dan keutamaan di akhirat jauh lebih signifikan dan abadi. Derajat di akhirat tidak ditentukan oleh kekayaan atau kedudukan duniawi, melainkan oleh amal saleh, ketakwaan, dan keimanan seseorang.
• Hikmah : Bagian ini memberikan motivasi dan peringatan bagi kita. Motivasi untuk tidak terlalu terbuai dengan gemerlap dunia dan perbedaannya, karena semua itu fana. Peringatan agar kita berorientasi pada kehidupan akhirat yang kekal, dengan mengumpulkan bekal amal sebaik-baiknya. Derajat yang tinggi di akhirat adalah tujuan sejati bagi orang-orang yang beriman. Ia adalah keutamaan yang hakiki, yang jauh melampaui segala kelebihan duniawi.
Kesimpulan Tafsir :
Ayat 21 dari Surah Al-Isra’ adalah pengingat penting tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Ia mengajarkan kita untuk :
• Mensyukuri setiap rezeki dan kelebihan yang diberikan Allah, sekaligus bersabar atas kekurangan.
• Mengutamakan persiapan untuk kehidupan akhirat, karena di sanalah derajat dan keutamaan yang hakiki akan diberikan berdasarkan kualitas amal dan takwa seseorang, bukan semata-mata berdasarkan kekayaan atau kedudukan di dunia.
Ayat ini menunjukkan bahwa kelebihan seseorang bukan terjadi secara kebetulan. Ia adalah bagian dari kehendak Ilahi yang sarat makna. Namun kelebihan bukanlah puncak dari sebuah kemuliaan, melainkan awal dari sebuah ujian dan tanggung jawab. Allah tidak memberikan kelebihan secara sembarangan; hanya kepada mereka yang dikehendaki-Nya, dan yang dianggap mampu memikul amanah tersebut.
Mengapa Hanya Yang ‘Beruntung’ Yang Di Beri Kelebihan ? :
Kata “beruntung” di sini bukan berarti nasib semata, tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai terpilih. Keberuntungan menurut pandangan Islam tidak hanya dilihat dari sisi duniawi, tetapi juga dari sisi kesanggupan untuk bersyukur, menjaga amanah, dan tidak terpedaya oleh kelebihan itu sendiri.
Seseorang yang diberi kekayaan, misalnya, dianggap beruntung jika ia mampu menggunakan hartanya untuk kebaikan. Yang diberi ilmu, dianggap beruntung jika ia menyebarkannya dengan ikhlas. Dan yang diberi pengaruh, beruntung jika ia mampu menjadi pemimpin yang adil. Maka keberuntungan bukanlah pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang memperlakukan nikmat itu.
Setiap Orang Punya Kelebihannya :
Penting untuk dipahami bahwa meski kelebihan tampak berbeda-beda, sejatinya setiap manusia diberi kelebihan oleh Allah. Hanya saja, bentuk dan manifestasinya tidak selalu sama atau mudah dikenali. Ada kelebihan yang tampak, ada pula yang tersembunyi di balik kelemahan. Seorang penyandang disabilitas mungkin tidak memiliki kesempurnaan fisik, tetapi bisa memiliki kelebihan dalam ketabahan dan spiritualitas yang tinggi.
Allah Berfirman Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ١٣
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
(Q.S. Al-Hujurat Ayat 13)
Tafsir Lengkap :
Ayat ini adalah salah satu ayat yang sangat fundamental dalam Islam mengenai persamaan derajat manusia dan pentingnya takwa. Mari kita bedah tafsirnya :
1. “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…” :
Bagian ini menegaskan asal-usul penciptaan seluruh umat manusia. Semua manusia, tanpa terkecuali, berasal dari satu sumber yang sama: Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan). Ini secara tegas menghilangkan dasar-dasar klaim keunggulan ras, warna kulit, atau keturunan. Kita semua bersaudara dalam kemanusiaan, memiliki nenek moyang yang sama. Ini adalah pukulan telak terhadap segala bentuk rasisme dan diskriminasi.
2. “…kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” :
Meskipun berasal dari satu asal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian menjadikan manusia beraneka ragam dalam bentuk bangsa dan suku. Keanekaragaman ini bukan untuk saling bermusuhan, berbangga diri, atau merendahkan orang lain. Justru sebaliknya, tujuannya adalah “li ta’arafu” yang berarti untuk saling mengenal, memahami, dan berinteraksi.
• Saling Mengenal : Ini mencakup pengenalan budaya, adat istiadat, bahasa, dan cara hidup. Dengan saling mengenal, kita dapat memperkaya wawasan, memperkuat silaturahmi, dan membangun jembatan persaudaraan.
• Kerja Sama Dan Harmoni : Pengenalan ini diharapkan mengarah pada kerja sama, saling membantu, dan hidup berdampingan secara harmonis. Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Ayat ini mengajarkan kita untuk merayakan perbedaan sebagai tanda kebesaran Allah dan sebagai sarana untuk memperluas cakrawala kemanusiaan kita.
3. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” :
Ini adalah inti pesan dari ayat ini dan merupakan revolusi dalam konsep kemuliaan. Di banyak peradaban kuno, bahkan hingga kini, kemuliaan seringkali diukur berdasarkan :
• Keturunan/Garis Darah : Siapa leluhurnya, apakah dari bangsawan atau tidak.
• Kekayaan : Seberapa banyak harta yang dimiliki.
• Jabatan/Kedudukan : Seberapa tinggi posisinya dalam masyarakat.
• Fisik : Kecantikan, kekuatan, atau warna kulit.
Namun, Islam, melalui ayat ini, membatalkan semua ukuran duniawi tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan dengan tegas bahwa satu-satunya kriteria kemuliaan yang sejati di sisi-Nya adalah “ketakwaan” (atqaakum).
Takwa : Adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, yang didasari oleh rasa takut dan cinta kepada-Nya. Takwa adalah kualitas batiniah yang termanifestasi dalam perilaku lahiriah. Ini mencakup integritas moral, keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan pelayanan kepada sesama.
• Implikasinya : Seorang budak yang bertakwa lebih mulia di sisi Allah daripada seorang raja yang tidak bertakwa. Seorang miskin yang taat lebih mulia daripada seorang kaya yang sombong dan durhaka. Ini mendorong setiap individu untuk fokus pada perbaikan diri dan hubungannya dengan Tuhan, bukan pada hal-hal duniawi yang fana.
4. “Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” :
Penutup ayat ini menegaskan dua sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
• Alim (Maha Mengetahui) : Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk niat, amal perbuatan, dan tingkat ketakwaan dalam hati setiap hamba-Nya. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.
• Khabir (Mahateliti/Maha Mengenal): Allah Maha Teliti dalam pengetahuan-Nya. Dia tidak hanya mengetahui secara umum, tetapi juga mengetahui detail terkecil dari setiap tindakan dan pikiran. Ini memberikan jaminan bahwa keadilan-Nya mutlak, dan Dia akan memberikan balasan sesuai dengan kadar ketakwaan masing-masing individu.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa penilaian sejati datang dari Allah, bukan dari pandangan manusia. Oleh karena itu, tujuan hidup seorang Muslim haruslah meraih takwa, karena itulah jalan menuju kemuliaan abadi di sisi-Nya.
Sebagai manusia, kita seringkali terpukau dengan bakat dan kemampuan istimewa yang dimiliki oleh sebagian orang. Ada yang dianugerahi kecerdasan luar biasa, ada yang memiliki keahlian seni yang memukau, tak sedikit pula yang diberkahi dengan kekuatan fisik di atas rata-rata. Fenomena ini kerap memunculkan pertanyaan: mengapa sebagian orang tampak “lebih” dari yang lain? Apakah ini semata-mata keberuntungan, ataukah ada campur tangan ilahi di baliknya ?
Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk setiap individu manusia dengan segala karakteristiknya, adalah ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada satu pun daun yang gugur tanpa seizin-Nya, dan tidak ada satu pun kelebihan yang dimiliki manusia melainkan itu adalah anugerah langsung dari Sang Pencipta.
Kelebihan Sebagai Karunia Allah :
Konsep bahwa Allah memberikan kelebihan pada seseorang adalah prinsip fundamental dalam akidah Islam. Setiap manusia diciptakan dengan potensi dan karunia yang berbeda-beda. Ini bukan berarti Allah pilih kasih, melainkan merupakan bagian dari hikmah-Nya yang Maha Luas dalam mengatur kehidupan di dunia ini.
Kelebihan Ini Bisa Beragam Bentuknya :
• Kecerdasan Intelektual : Kemampuan berpikir logis, daya ingat kuat, atau bakat dalam bidang sains dan matematika.
• Bakat Seni : Kemampuan melukis, bermusik, menulis, atau seni pertunjukan lainnya.
• Kekuatan Fisik : Daya tahan, kecepatan, atau kekuatan otot yang menonjol.
• Kecerdasan Emosional Dan Sosial : Kemampuan berempati, berkomunikasi efektif, atau menjadi pemimpin yang karismatik.
• Keahlian Khusus : Bakat di bidang teknologi, strategi bisnis, atau keterampilan praktis lainnya.
Kelebihan-kelebihan ini bukanlah sesuatu yang kebetulan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 70 :
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا ٧٠
Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
QS. Al-Isra ayat : 70
Tafsir Lengkap :
Ayat ini adalah salah satu ayat yang sangat indah dan mendalam dalam Al-Qur’an, yang menyoroti tentang kemuliaan manusia. Mari kita bedah satu per satu bagiannya :
1. “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ” (Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam) :
• Tafsir : Ini adalah inti dari ayat ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa Dia telah memberikan kemuliaan (karamah) khusus kepada seluruh anak cucu Adam, yaitu manusia. Kemuliaan ini bersifat menyeluruh, meliputi aspek fisik, akal, jiwa, dan sosial.
• Kemuliaan Fisik : Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna (ahsanit taqwim), berdiri tegak, memiliki anggota badan yang proporsional, dan indra yang lengkap.
• Kemuliaan Akal : Manusia dikaruniai akal (intelek) yang membedakan mereka dari makhluk lain. Dengan akal, manusia mampu berpikir, memahami, berinovasi, dan belajar. Ini adalah anugerah terbesar yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan peradaban.
• Kemuliaan Jiwa/Roh : Manusia ditiupkan ruh dari sisi Allah, yang memberikan potensi spiritual dan kemampuan untuk mengenal dan berinteraksi dengan Allah.
• Kemuliaan Tanggung Jawab (Taklif) : Dengan kemuliaan ini, manusia juga diberi amanah dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, yaitu mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak Allah.
2. “وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ” (dan Kami angkut mereka di darat dan di laut) :
• Tafsir : Bagian ini menunjukkan kemudahan yang Allah berikan kepada manusia dalam mobilitas dan perjalanan.
• Di Darat : Allah menyediakan berbagai sarana dan kemampuan bagi manusia untuk bergerak di darat, baik itu melalui kekuatan fisik mereka sendiri (berjalan kaki), hewan tunggangan, atau kemudian melalui inovasi kendaraan seperti mobil, kereta api, dan sebagainya. Ini juga bisa diartikan sebagai kemampuan manusia untuk memanfaatkan daratan untuk tempat tinggal dan beraktivitas.
• Di Laut : Allah juga memudahkan manusia untuk berlayar di laut, baik untuk perdagangan, penjelajahan, maupun mencari nafkah (misalnya menangkap ikan). Allah menciptakan hukum-hukum alam yang memungkinkan kapal untuk mengapung dan berlayar. Ini menunjukkan betapa Allah menundukkan alam semesta untuk kepentingan manusia.
3. “وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ” (dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik) :
• Tafsir : Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki. Manusia diberi rezeki berupa hal-hal yang baik (thayyibat), yaitu :
• Halal : Rezeki yang diperoleh melalui cara yang sah dan tidak melanggar syariat.
• Bersih Dan Sehat : Makanan dan minuman yang bermanfaat bagi tubuh dan tidak membahayakan.
• Menyenangkan Dan Berguna : Rezeki yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memberikan kenikmatan dan mendukung kehidupan yang berkualitas. Ini mencakup segala bentuk rezeki, mulai dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, ilmu, hingga ketenangan jiwa.
4. “وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا” (dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna) :
• Tafsir : Ini adalah puncak dari kemuliaan yang diberikan kepada manusia. Allah menyatakan bahwa manusia dilebihkan (faddalnahum) dan memiliki keunggulan yang sempurna (tafdhila) atas banyak makhluk lain yang Allah ciptakan.
• Kelebihan Atas Makhluk Lain : Manusia memiliki kapasitas akal, kehendak bebas (ikhtiyar), dan kemampuan untuk memikul amanah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar makhluk lain (seperti hewan atau tumbuhan). Malaikat, meskipun memiliki kemuliaan, tidak memiliki kehendak bebas dalam berbuat dosa seperti manusia.
• “Banyak Makhluk” : Frasa ini mengindikasikan bahwa mungkin ada makhluk lain yang juga memiliki keutamaan tertentu, namun secara umum, manusia diberikan keunggulan yang komprehensif. Beberapa ulama menafsirkan bahwa manusia dilebihkan atas semua makhluk kecuali mungkin para malaikat tertentu atau bahkan manusia bisa lebih mulia dari malaikat jika mereka taat dan bertakwa. Keunggulan manusia adalah karena potensi mereka untuk mencapai derajat tertinggi di sisi Allah melalui iman dan amal saleh.
Kesimpulan Dan Hikmah Dari Ayat :
Ayat ini secara keseluruhan adalah pengingat yang kuat akan kedudukan istimewa manusia di hadapan Allah. Ini bukan berarti manusia boleh sombong, melainkan harus bersyukur dan menyadari tanggung jawab besar yang melekat pada kemuliaan ini.
• Syukur : Ayat ini mendorong kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan keistimewaan yang Allah berikan.
• Tanggung Jawab : Kemuliaan ini menuntut manusia untuk menggunakan akal, potensi, dan rezeki yang diberikan untuk hal-hal yang baik, bermanfaat, dan sesuai dengan tujuan penciptaan.
• Amanah Kekhalifahan : Dengan kemuliaan ini, manusia diamanahkan untuk menjadi pengelola bumi yang baik, menjaga lingkungan, menyebarkan keadilan, dan beribadah kepada Allah.
• Motivasi Untuk Beramal : Ayat ini juga bisa menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas diri, belajar, berkarya, dan berbuat kebaikan, sebagai wujud dari syukur atas kemuliaan yang telah dianugerahkan.
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kemuliaan dan kelebihan yang dimiliki manusia adalah anugerah dari Allah.
Memahami Konsep “Keberuntungan” :
Istilah “hanya yang beruntung yang diberikan sebuah kelebihan” dapat kita pahami dalam konteks Islam sebagai orang-orang yang diberikan taufik (kemudahan) oleh Allah untuk mengoptimalkan karunia-Nya. Keberuntungan di sini bukanlah semata-mata undian, melainkan hasil dari beberapa faktor yang saling terkait :
1. Takdir Ilahi : Sebagian kelebihan memang sudah menjadi bagian dari takdir seseorang sejak lahir. Misalnya, seseorang yang lahir dengan bakat musik yang alami. Namun, takdir ini tidak lantas berarti pasif.
2. Ikhtiar (Usaha) : Keberuntungan sejati adalah ketika seseorang yang dianugerahi potensi, kemudian berupaya keras untuk mengasahnya. Seorang ilmuwan tidak serta-merta menjadi pintar tanpa belajar, begitu juga seorang atlet tidak akan berprestasi tanpa latihan keras. Usaha ini adalah bagian dari takdir yang harus dijalani.
3. Syukur Dan Pemanfaatan : Orang yang beruntung adalah mereka yang tidak hanya dianugerahi kelebihan, tetapi juga mensyukuri anugerah tersebut dengan memanfaatkannya di jalan yang benar dan bermanfaat bagi sesama. Kelebihan yang tidak disyukuri dan tidak dimanfaatkan dengan baik bisa menjadi sia-sia, bahkan mendatangkan mudarat.
Hikmah Di Balik Perbedaan Kelebihan :
Mengapa Allah memberikan kelebihan yang berbeda-beda kepada manusia ? Ada banyak hikmah di baliknya :
• Ujian Dan Tanggung Jawab: Setiap kelebihan adalah ujian. Bagaimana seseorang menggunakan kecerdasannya? Apakah untuk kebaikan atau keburukan? Apakah kekuatan fisiknya digunakan untuk menolong atau menyakiti? Semakin besar kelebihan, semakin besar pula tanggung jawabnya.
• Saling Melengkapi : Bayangkan jika semua orang memiliki kelebihan yang sama. Dunia tidak akan berjalan harmonis. Dengan perbedaan kelebihan, manusia menjadi saling membutuhkan. Seorang dokter membutuhkan petani, seorang guru membutuhkan insinyur, dan seterusnya. Ini menciptakan tatanan masyarakat yang seimbang dan saling melengkapi.
• Mendorong Inovasi Dan Kemajuan : Kelebihan yang beragam mendorong manusia untuk berinovasi dan mengembangkan peradaban. Penemuan-penemuan baru, karya seni yang indah, dan solusi untuk masalah-masalah global muncul dari optimalisasi berbagai kelebihan individu.
• Mengenal Kekuasaan Allah : Perbedaan dalam ciptaan-Nya adalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Ini mendorong manusia untuk merenung dan bertafakur tentang penciptaan-Nya yang sempurna.
Pada akhirnya, setiap manusia adalah istimewa di mata Allah dengan cara dan kelebihan masing-masing. Penting bagi kita untuk mengenali potensi diri, berusaha mengasahnya, mensyukurinya, dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk kebaikan diri sendiri, sesama, dan sebagai bentuk ibadah kepada Sang Pencipta. Keberuntungan sejati bukanlah tentang menerima lebih banyak, melainkan tentang bagaimana kita menggunakan apa yang telah diberikan Allah kepada kita.
Ucapan Terima Kasih :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Dengan penuh rasa syukur, saya ucapkan jazākumullāhu khayran katsīrā kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktu, hati, dan pikiran untuk menyimak tulisan ini. Semoga setiap ilmu dan hikmah yang terkandung di dalamnya menjadi amal jariyah, baik bagi penulis maupun bagi pembaca sekalian.
Bila terdapat kebenaran dalam tulisan ini, maka itu semata-mata datang dari Allah ﷻ; dan bila ada kekeliruan, itu berasal dari diri saya pribadi.
Mohon doa dan dukungan agar kami senantiasa diberikan kekuatan untuk terus menghadirkan karya-karya yang bermanfaat, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperkuat keimanan kita bersama.
Wassalāmu ‘Alaikum Warahmatullāhi Wabarakātuh.
📌BACA SAMPAI SELESAI AGAR TAK GAGAL FAHAM
📌ARTIKEL INI HANYA BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN DAN BUKAN UNTUK MENGAJARI
1. Sumber : https://inspirator-rakyat.com/allah-memberikan-kelebihan-pada-seseorang-dan-hanya-yang-beruntung-yang-di-berikan-sebuah-kelebihan/
2. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-017-021/
3. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-049-013/
4. Sumber : https://daaralatsarindonesia.com/tafsir-017-070/
Editor : MUH. IKHSAN AM
( INSPIRATOR-RAKYAT.COM )
( PEJUANG ASPIRASI RAKYAT )





